TelAviv, LiputanIslam.com – Media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa sumber-sumber keamanan dan militer Israel menduga Hizbullah sedang mempersiapkan tindakan yang dapat mengguncang seluruh kawasan.
Surat kabar Ma’ariv menyebutkan bahwa militer Israel khawatir Hizbullah berusaha mengambil langkah yang dapat menggagalkan semua rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel, dan kalangan intelijen dan militer Israel masih dihantui mimpi buruk akan serangan Hizbullah di sepanjang garis perbatasan, atau bahkan perebutan permukiman utara (Palestina pendudukan), atau serangan ke wilayah Israel yang lebih dalam, terutama instalasi strategis dan vital Israel.
Dalam laporan Ma’arif, yang menjustifikasi kejahatan terbaru tentara Israel di Lebanon, diakui bahwa puluhan warga Lebanon telah dibunuh dalam beberapa hari terakhir (dengan dalih dan klaim sebagai anggota Hizbullah), yang banyak di antaranya melalui serangan udara.
Dalam sebagian laporan ini, secara implisit juga diakui bahwa Al-Julani juga bekerja sama dengan Israel untuk menekan Hizbullah, tetapi semua tindakan ini tidak menghalangi upaya Hizbullah untuk membangun kembali dan memperkuat dirinya.
Sementara itu, dua bersaudara di Lebanon selatan gugur akibat serangan pasukan Israel terhadap kota Al-Bayed, distrik Tirus, Senin (27/10).
Sebelumnya, pasukan Israel dilaporkan telah menjatuhkan bom kejut di daerah Karum al-Marah di kota Mis al-Jabal hingga menyebabkan kepanikan di antara penduduk.
Kendaraan militer Israel melakukan pekerjaan teknik dan operasi pembongkaran di Wadi Hunin, yang terletak di antara kota Merkaba dan Addissah di Lebanon selatan, yang jelas-jelas melanggar kedaulatan Lebanon.
Agresi ini terjadi di tengah eskalasi serangan Israel yang sedang berlangsung terhadap desa-desa dan kota-kota di selatan. Empat warga Lebanon gugur dan dua lainnya terluka, pada hari Minggu, akibat serangan drone Israel di Lebanon selatan dan timur.
Serangan Israel terhadap kedaulatan Lebanon terus berlanjut, yang jelas-jelas melanggar Resolusi PBB 1701 dan deklarasi penghentian permusuhan pada 27 November 2024, yang mencakup wilayah selatan, Beqaa, dan pinggiran selatan Beirut. (mm/tasnim/almayadeen)