TelAviv, LiputanIslam.com – Terkait meluasnya fenomena remigrasi warga Zionis Israel selama dua tahun perang, berbagai lembaga Zionis menyatakan adanya kekhawatir yang sesungguhnya terkait dengan pemilu dini yang akan datang, dan diprediksi bahwa Israel akan menghadapi tsunami besar remigrasi (perpindahan kembali ke negara asal) warga Zionis, terutama kalangan elitnya.
Sejak bulan-bulan awal perang Gaza dan meluasnya ketidakamanan dan instabilitas di tengah masyarakat Zionis, banyak laporan telah dipublikasikan tentang peningkatan laju remigrasi Zionis. Berbagai lembaga mengumumkan dalam beberapa hari terakhir bahwa remigrasi Israel meningkat pada level yang mengkhawatirkan, dan hal ini telah memicu diskusi tingkat tertinggi di forum-forum resmi terkait.
Kekhawatiran ini terutama bersumber dari meningkatnya remigrasi Israel, yang diperkirakan akan terus meningkat setelah pemilu dini mendatang, yang akan menentukan arah masa depan Israel.
Sebuah laporan yang disusun oleh Pusat Penelitian dan Informasi Knesset dalam persiapan untuk debat di Komite Imigrasi, Penyerapan, dan Reintegrasi telah menghasilkan statistik mengejutkan, yang menunjukkan bahwa pada kurun waktu 2020 -2024, lebih dari 145.000 warga Israel telah meninggalkan wilayah pendudukan Palestina.
Laporan tersebut, yang sebagian diterbitkan oleh surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth, menunjukkan bahwa pada tahun 2020 sekitar 34.000 orang meninggalkan Israel (Palestina pendudukan); pada tahun 2021 sekitar 43.400 orang; pada tahun 2022, sekitar 59.400 orang; dan pada tahun 2023 sekitar 82.800 orang, dan jumlah remigran terus meningkat pada tahun 2024.
Data dari Biro Statistik Pusat Israel menunjukkan bahwa dari tahun 2009 hingga 2021, rata-rata 36.000 orang meninggalkan wilayah pendudukan setiap tahun, tetapi sejak tahun 2022, akibat perselisihan internal setelah kabinet Benjamin Netanyahu berkuasa, jumlah remigran meningkat secara signifikan, dan pada tahun itu, 55.300 orang meninggalkan Israel, meningkat 46% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut laporan ini, pada tahun 2023, 82.700 orang meninggalkan Israel, yang merupakan peningkatan sebesar 50%.
Namun, yang meningkatkan kekhawatiran kaum Zionis, terutama penguasa rezim ini, ialah bahwa setidaknya 40% remigran adalah generasi muda berusia antara 20 dan 39 tahun. Ini berarti bahwa populasi yang meninggalkan wilayah pendudukan merupakan tulang punggung perekonomian rezim ini.
Statistik juga menunjukkan bahwa separuh jumlah remigran tahun 2022, yaitu 27.500 orang, adalah imigran baru yang telah berimigrasi ke wilayah pendudukan lima tahun sebelumnya atau pada tahun yang sama di tahun 2022, tetapi segera menyesalinya dan kembali ke negara asal mereka.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar remigran memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada rata-rata populasi Zionis, dengan 26% di antaranya telah menyelesaikan gelar universitas. Sebanyak 54% dari mereka tinggal di wilayah pusat dan kota Tel Aviv, yang berada pada tingkat kesejahteraan dan fasilitas tertinggi, sementara hanya 10% remigran yang tinggal di wilayah utara dan selatan Palestina pendudukan. Ini berarti bahwa sebagian besar Zionis yang meninggalkan Palestina pendudukan selama periode ini berasal dari lapisan kaya dan terpelajar. (mm/tasnim)