Kairo, LiputanIslam.com – Faksi-faksi Palestina menegaskan kembali kekompakan mereka melawan aneksasi Israel atas wilayah pendudukan Tepi Barat dan penggusuran warga Palestina di Gaza.
Menutup pertemuan dua hari yang diselenggarakan oleh Mesir pada hari Jumat (24/10), faksi-faksi tersebut menekankan bahwa tahap saat ini membutuhkan “sikap nasional yang bersatu,” menolak segala bentuk aneksasi dan penggusuran di Gaza, Tepi Barat, dan al-Quds.
Mereka mengecam persetujuan awal parlemen Israel (Knesset) untuk mencaplok Tepi Barat, dan menyebutnya sebagai “agresi serius terhadap identitas dan eksistensi Palestina.”
Pertemuan tersebut diadakan di tengah upaya internasional untuk mengkonsolidasikan perjanjian gencatan senjata Gaza yang dicapai awal bulan ini dan untuk mengatasi dampak perang genosida Israel.
Beberapa faksi Palestina menghadiri pertemuan tersebut untuk membahas perkembangan terbaru perjuangan Palestina dan fase kedua rencana gencatan senjata gagasan Presiden AS Donald Trump, sebagai persiapan untuk mengadakan dialog nasional yang komprehensif guna memulihkan persatuan nasional Palestina.
Dalam komunike bersama, faksi-faksi Palestina menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, pencabutan penuh blokade terhadap Gaza, dan segera dimulainya proses rekonstruksi komprehensif Jalur Gaza.
Mereka menyatakan dukungan mereka kepada pembentukan komite sementara yang terdiri dari para teknokrat untuk mengelola Gaza pascaperang, bekerja sama dengan negara-negara Arab dan lembaga-lembaga internasional. Mereka juga menekankan bahwa persatuan nasional merupakan respon yang “menentukan” terhadap kebijakan Israel.
Pernyataan tersebut juga menyerukan penerapan semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas di Gaza, dan menekankan pentingnya penerbitan resolusi PBB mengenai pengerahan pasukan internasional sementara untuk memantau gencatan senjata.
Faksi-faksi pejuang Palestina juga mendesak komunitas internasional untuk menekan Israel agar berhenti melanggar hak-hak tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.
Mereka sepakat untuk mempersiapkan pertemuan seluruh kekuatan dan faksi Palestina guna menyatukan visi dan mengaktifkan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang digambarkan sebagai “satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina,” sehingga mencakup semua komponen dan kekuatan aktif rakyat Palestina.
Pernyataan tersebut menyerukan agar hasil pertemuan itu menjadi titik awal yang sejati bagi persatuan nasional yang sejati untuk membela hak rakyat Palestina atas kehidupan, martabat, kebebasan, penentuan nasib sendiri, dan pembentukan negara Palestina merdeka dengan al-Quds sebagai ibu kotanya, sekaligus menjamin hak untuk kembali bagi para pengungsi.
Israel telah membunuh hampir 70.000 warga Palestina sejak melancarkan perang genosida di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, sebelum kesepakatan gencatan senjata dicapai di jalur tersebut awal bulan ini. Kesepakatan ini menandai tahap pertama dari 20 poin gagasan Trump, dengan tahap selanjutnya yang akan dinegosiasikan di kemudian hari. (mm/presstv)