Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan bahwa Israel tidak mencapai tujuannya dan tidak akan pernah mencapainya meskipun ada persekongkolan internasional, dan bahwa stabilitas Lebanon bergantung pada penghentian pendudukan Israel.
Syeikh Qassem pada hari Selasa (21/10) menyebut intervensi Amerika Serikat (AS) di Lebanon dan kawasan Timur Tengah sebagai hal yang sangat buruk dan membuktikan bahwa Washington memimpin genosida dan pembantaian. Dia memperingatkan pemerintah AS dan (Utusan Khusus AS) Tom Barrack perihal ancaman yang terus berlanjut terhadap Lebanon dan upaya menjadikannya bagian dari Israel Raya.
Dia menambahkan bahwa rencana Netanyahu untuk Israel Raya melayani kepentingan AS yang lebih besar , dan bahwa masa depan entitas Israel tidak terjamin meskipun ada pembunuhan dan penghancuran. Dia juga memastikan bahwa apa yang dilakukan Trump di Sharm el-Sheikh bukanlah tawaran perdamaian.
Syekh Qassem menegaskan bahwa Lebanon tidak akan memberikan apa yang diinginkan Israel atau AS selama masih ada rakyat yang pantang menyerah dan siap berkorban. Dia juga menekankan bahwa persenjataan Hizbullah adalah bagian dari kekuatan Lebanon, dan bahwa keliru siapa pun yang berpikir bahwa peniadaannya akan menyelesaikan masalah.
Sekjen Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon untuk mengemban tanggung jawabnya dalam melindungi kedaulatan nasional. Dia menekankan bahwa Lebanon bukanlah penjara bagi warganya dan harus berada di bawah pengelolaan pemerintah Lebanon sendiri, bukan AS, demi kepentingan rakyat.
Sementara itu, seorang legislator Lebanon mengatakan bahwa Hizbullah telah mendapatkan kembali kekuatannya, dan memperingatkan bahwa gerakan perlawanan ini sepenuhnya siap menghadapi potensi ancaman atau tindakan agresi dari rezim Israel.
“Hizbullah tak terkalahkan dan tidak akan terkalahkan,” ujar Hassan Ezzedine, anggota Loyalty to the Resistance Bloc – sayap politik Hizbullah – di parlemen Lebanon.
“Kelompok perlawanan ini terus berdiri teguh dengan tekad baja dan motivasi yang kuat. Gerakan ini memiliki tujuan yang sah untuk membela tanah air, dan martabat serta kehormatan seluruh masyarakat Lebanon berada di garda terdepan,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa cepat atau lambat pasukan Israel akan mundur dari wilayah pendudukan di Lebanon selatan.
“Front Perlawanan di Lebanon telah mendapatkan kembali kekuatannya, masih eksis dan berdiri tegak. Ia dapat menghadapi setiap gerakan permusuhan, kemungkinan serangan darat musuh Zionis, atau upaya apa pun untuk menduduki lebih banyak wilayah [di Lebanon],” imbuh Ezzedine.
Mengenai gelombang terbaru serangan udara Israel di Lebanon selatan, dia mengatakan, “Serangan-serangan tersebut adalah demi memberikan tekanan psikologis, intimidasi, dan terorisme ekonomi, serta bertujuan untuk mempertahankan kondisi teror. Penghancuran kendaraan dan infrastruktur sipil (di Lebanon selatan) tidak akan membuat kami menyerah pada kehendak musuh… Musuh tidak dapat mematahkan kehendak kami dengan cara apa pun.” (mm/raialyoum/alalam)