London, LiputanIslam.com – Pemimpin Redaksi media online Rai Al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Dr. Abdel Bari Atwan, mengungkapkan siapa yang akan memerintah Jalur Gaza, dan meremehkan rencana Presiden AS Donald Trump untuk memaksakan kendali asing atas wilayah ini.
“Ada 20 poin yang disebutkan dalam rencana Presiden AS Trump, tapi kenyataannya adalah siapa pun yang akan mendiktekan kehendaknya di lapangan adalah pihak yang memerintah, pihak yang didukung oleh rakyat Palestina. Yang saya maksud di sini adalah Gerakan Perlawanan Islam, Hamas, dan Jihad Islam,” ungkap Atwan dalam wawancara dengan saluran al-Alam, Ahad (12/10).
Atwan menegaskan, “Kubu perlawananlah yang akan memutuskan siapa yang akan memerintah Jalur Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung”.
Sembari menolak campur tangan asing apa pun dalam pengambilan keputusan Palestina. Atwan menambahkan, “Saya kira, rakyat Palestina bukanlah anak di bawah umur bagi AS untuk kemudian AS datang dan memilih siapa yang akan memerintah mereka.”
Atwan mengkritik rencana pembentukan dewan pemerintahan baru untuk Gaza, yang terdiri dari Presiden AS Donald Trump, menantunya Jared Kushner, dan Tony Blair, dengan menyebutnya “tidak dapat diterima.”
Dia menekankan kebesaran dan kemampuan rakyat Palestina. “Rakyat Palestina adalah bangsa yang hebat. Rakyat Palestina penuh dengan kemampuan. Rakyat Palestina dapat memerintah diri mereka sendiri tanpa campur tangan pihak luar,” ujarnya.
Mengenai perkembangan terkini, Atwan memperingatkan bahwa hari-hari mendatang akan “sangat berbahaya dan sangat sulit.” Dia menilai rezim pendudukan Israel “ingin mendapatkan kembali para sandera dan berpegang teguh pada tahap pertama, tanpa membicarakan tahap kedua sama sekali.”
Pemimpin redaksi Rai al-Youm menyatakan skeptisismenya terhadap komitmen entitas Zionis tersebut, dengan menyatakan bahwa entitas itu “tidak pernah mematuhi perjanjian apa pun sebelumnya.”
Atwan memperkirakan bahwa rezim pendudukan akan berbalik arah dan melanjutkan agresinya terhadap Jalur Gaza, terutama setelah memutuskan untuk tetap berada di luar Garis Kuning dan mempertahankan pasukannya di wilayah Beit Hanoun, Koridor Philadelphia, dan Khan Yunis. (mm/alalam)