SharmEl-Sheikh, LiputanIslam.com – Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menyatakan rezim Zionis Israel terus melancarkan agresi mematikan di Jalur Gaza, meskipun perundingan sedang berlangsung untuk menghentikan perang genosida Israel yang telah berlangsung dua tahun di wilayah pesisir Palestina tersebut.
“Rezim Pendudukan Israel tidak dapat dipercaya,” kata kepala delegasi negosiasi Hamas, Khalil al-Hayya, di resor Laut Merah Mesir, Sharm el-Sheikh, Selasa (8/10).
Al-Hayya dan rekan-rekannya di delegasi Hamas berada di Sharm el-Sheikh untuk membahas prospek diakhirinya perang genosida berdasarkan usulan yang diajukan Presiden AS Donald Trump akhir bulan lalu, yang diklaim Trump bertujuan demikian.
“Musuh terus membunuh dan membinasakan,” tambah al-Hayya.
Dia menginginkan jaminan internasional yang kredibel untuk menjamin komitmen rezim Israel dalam penghentian agresinya, yang sejauh ini telah merenggut nyawa sekitar 67.200 warga Palestina, yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak.
Rezim Zionis Israel melancarkan perang setelah terjadi operasi serangan bersejarah terhadap Israel oleh para pejuang perlawanan Gaza, yang berhasil menembus jauh ke dalam wilayah pendudukan Palestina 1948, mengepung pangkalan militer Israel, dan menawan ratusan Zionis.
Hayya menegaskan bahwa delegasi Hamas berada di Sharm El-Sheikh untuk melakukan negosiasi yang “bertanggung jawab dan serius”.
“Kami menegaskan kesiapan penuh kami untuk menghentikan perang,” katanya.
Kurang dari seminggu yang lalu, Hamas menyetujui pembebasan tawanan Israel yang masih berada di Gaza dan menyerahkan administrasi wilayah tersebut kepada badan Palestina, sebagaimana tercantum dalam rencana Trump.
Al-Hayya memastikan bahwa perwakilan Hamas, yang berpartisipasi dalam perundingan, memiliki “tujuan dan aspirasi yang sama dengan rakyat kami untuk stabilitas, kenegaraan, dan penentuan nasib sendiri.”
Dia memperingatkan lagi ihwal ingkar janji Israel, dengan merujuk pada rekam jejak pelanggaran perjanjian 2023 dan kesepahaman yang dicapai awal tahun ini.
Al-Hayya menyebutkan pengakuan beberapa pejabat Israel sendiri yang telah mengungkap penundaan yang disengaja oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas prosedur negosiasi yang telah berlangsung sejak dimulainya perang.
Pengungkapan yang paling mengejutkan terjadi pada bulan Maret, ketika mantan kepala badan intelijen rezim, Shin Bet, menyebut Netanyahu sebagai hambatan utama bagi negosiasi yang efektif antara Hamas dan Tel Aviv. (mm/presstv)