Baghdad, LiputanIslam.com – Pakar keamanan dan strategi Irak, Kol. (purn) Abdul Karim Khalaf, mengatakan memuji rudal Iran antara lain karena kemampuannya bermanuver dan mengecoh dengan mengubah lintasan lalu kembali melesat ke arah target.
Dalam wawancara dengan saluran TV Al-Alam milik Iran, Senin (29/9), Khalaf mengatakan bahwa rudal “Khorramshahr 4” Iran, yang mulai beroperasi belakangan ini, merupakan “pergeseran kualitatif” dalam konsep deterensi regional.
Dia menyebutkan bahwa kecepatan rudal itu hingga Mach 16 membuatnya mampu berkelit dari semua sistem pertahanan udara global, dan jangkauan dampaknya kini bahkan mengancam pangkalan-pangkalan Eropa yang mendukung entitas Zionis Israel.
Daya Hancur yang Luar Biasa
Khalaf menegaskan bahwa rudal Khorramshahr 4, yang merupakan bagian dari generasi rudal Khaybar, memiliki keunggulan teknis yang luar biasa sehingga menjadikannya salah satu senjata tercanggih di dunia.
Menurutnya, kecepatan awal dan akhir rudal tersebut yang mencapai Mach 16 (19.700 kilometer per jam) merupakan “kecepatan gila”. Sebagai perbandingan, Tiongkok telah mencapai Mach 11, sementara Rusia mengklaim Mach 16. Keunggulan utamanya adalah muatan bahan peledaknya yang sangat besar, mencapai 1,5 ton. Khalaf menjelaskan bahwa jumlah material ini menyebabkan “gangguan dan kehancuran yang sangat besar” di area yang luasnya dapat melebihi 1.000 meter. Menurutnya, satu paket berisi empat rudal berarti meluncurkan 6 ton bahan peledak sehingga setara dengan dampak “setengah bom nuklir” di lokasi target.
Akurasi dan Kemampuan Manuver
Khalaf menilai Khorramshahr 4 telah mencapai tingkat teknis unik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam rudal balistik, terkait dengan akurasi dan kemampuan manuver pada tahap akhir.
Dia menjelaskan bahwa rudal tersebut memiliki perangkat navigasi canggih di hulu ledaknya sehingga mampu mengubah arah beberapa kali selama lintasan terakhirnya sebelum mencapai target, lalu kembali menyerang dan menghancurkannya. Hal ini menjadikannya target yang hampir mustahil untuk dicegat.
Ancaman dari Siprus hingga Eropa Selatan
Khalaf memperluas cakupan ancaman geografis, dengan menyatakan bahwa “rudal tersebut sekarang mampu mencapai pangkalan Inggris di Siprus, target di Laut Merah, dan Eropa Selatan.”
“Begitu jangkauan rudal itu ditambah 500-750 kilometer maka tiga negara Eropa yang mendukung Israel dengan pesawat dan rudal akan berada dalam jangkauan Iran,” ungkapnya.
Pesan Deterensi Strategis untuk Israel
Khalaf memandang rudal yang dinyatakan Teheran sebagai “opsi strategis untuk menanggapi setiap ancaman regional” itu memiliki tingkat kerusakan yang diperkirakan mengguncang entitas Israel.
Khalaf mencontohkan pelabuhan Haifa, yang fasilitasnya membentang lebih dari 6 kilometer. “Empat rudal di area ini akan membuat pelabuhan ini usang. Kerusakan demikian benar-benar tak tertahankan bagi Israel,” katanya.
Khalaf tidak membatasi pernyataannya hanya pada Israel, melainkan juga menyatakan bahwa “paket rudal”-lah yang mengalahkan AS di Laut Merah, di mana rudal hipersonik Yaman mampu merusak kapal induk besar, dan ini lantas mendorong Presiden AS Donald Trump untuk bernegosiasi dengan Sanaa melalui Oman guna menghentikan perang.
Ketidakmampuan Sistem Pertahanan Melawan Khorramshahr 4
Mengenai upaya pihak lawan untuk menutup celah pertahanan, Abdul Karim Khalaf memastikan belum ada teknologi yang dikembangkan untuk mencegat Khorramshahr 4 dan rudal hipersonik lainnya.
Dia menyebutkan bahwa apa sedang berlangsung dewasa ini hanyalah pengembangan sistem pertahanan, seperti sistem Arrow 3, yang sedang memasuki tahap uji coba bekerja sama dengan Prancis, Inggris, dan Jerman. Namun, pengembangan tersebut belum efektif, dan mengingat kecepatan dan kemampuan manuver yang begitu tinggi pada tahap akhir, sangat sulit bagi sistem pertahanan udara untuk melacak rudal demikian.
Persaingan senjata meluas ke udara
Khalaf mengatakan bahwa perlombaan senjata juga mencakup udara. Dalam serangan pertama, Israel meminjam 22 pesawat tanker untuk pengisian bahan bakar di udara, mendukung sekitar 200 pesawat serang dan pertahanan udara.
Khalaf menyimpulkan analisisnya dengan menegaskan bahwa Iran “telah bersiap untuk masalah ini,” dan telah mengembangkan sistem pertahanan udara yang mampu menjangkau target yang sangat besar dan menembak jatuh pesawat pengisian bahan bakar, yang akan menempatkan jet tempur Israel “dalam dilema di udara.” (mm/alalam)