NewYork, LiputanIslam.com – Sebuah rekaman video yang beredar memperlihatkan momen sejumlah besar delegasi melakukan aksi walk out saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan menyampaikan pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Jumat (26/9) .
Mereka serempak meninggalkan aula segera setelah Netanyahu masuk untuk menyampaikan pidatonya, dan segera setelah dia menyelesaikan pidatonya, sebagian besar delegasi yang telah meninggalkan aula kembali ke tempat duduk mereka.
Selama pidato Netanyahu, poster –poster anak-anak yang gugur akibat agresi Israel terhadap Iran dipajang di kursi perwakilan Republik Islam Iran di PBB.
Sebaliknya, para pendukung Israel, berdiri untuk menyemangatinya, memberinya tepuk tangan meriah dan semangat di tengah kemarahan internasional.
Channel 12 Israel melaporkan bahwa aksi walk out tersebut “merupakan bukti pandangan negatif dunia terhadap Israel,” sementara media berbahasa Ibrani lainnya menyebut situasi itu sebagai “aib publik bagi Netanyahu di hadapan komunitas internasional.”
Dalam peristiwa itu, Ketua Majelis Umum berusaha memperbaiki keadaan dengan mengatakan, “Harap hormati aturan sidang… Silakan duduk,” namun mayoritas delegasi tetap memilih angkat kaki.
Para pemimpin dunia berkumpul di New York, AS, setiap bulan September untuk menyampaikan pidato selama beberapa hari di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memulai sidang ke-80.
Pidato Netanyahu berlangsung selama 41 menit, melebihi batas waktu 15 menit yang diwajibkan bagi para pemimpin. Seorang penonton dari tribun berusaha mengganggu pidatonya dengan meneriakkan yel-yel yang menentangnya sejak menit pertama.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, berkomentar, “Dunia hari ini menyaksikan seorang perdana menteri Israel yang lelah, merengek dalam pidato sarat gimmick yang basi.”
Kantor Netanyahu mengundang tokoh-tokoh Yahudi terkemuka dan rekan-rekannya untuk menghadiri pidato di ruang VIP, termasuk pengacara Alan Dershowitz, untuk memberikan semangat demi mengimbangi ejekan dan protes. Wali Kota New York, Eric Adams, juga hadir, “untuk menghormati” Israel dan Netanyahu sendiri.
Bersamaan dengan pidato Netanyahu, New York dan beberapa kota lain di AS dilanda demonstrasi besar-besaran pro-Palestina di mana massa mengecam kejahatan Israel, dan menolak keterlibatan penjahat perang Netanyahu, yang berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional. Massa membawa spanduk yang menuntut diakhirinya perang dan pertanggungjawaban Israel atas pelanggarannya.
Netanyahu dalam pidatonya di Majelis Umum PBB (UNGA), berusaha membenarkan genosida pasukan Zionis di Gaza dan mengecam sekutu Baratnya seiring meningkatnya kritik global atas perang yang telah berlangsung hampir dua tahun.
Netanyahu yang semakin terisolasi itu mengecam apa yang disebutnya “keputusan memalukan” yang dibuat beberapa negara Barat dalam beberapa hari terakhir untuk mengakui negara Palestina.
“Ini akan menjadi aib bagi kalian semua,” katanya kepada audiens yang sedikit jumlahnya karena banyak delegasi meninggalkan aula sebagai protes saat dia berjalan menuju panggung.
“Keputusan memalukan kalian akan mendorong terorisme terhadap orang Yahudi, dan terhadap orang-orang tak bersalah di mana pun…. Para pemimpin Barat mungkin telah menyerah di bawah tekanan ini. Dan saya jamin satu hal: Israel tidak akan menyerah,” sambungnya.
Netanyahu memaparkan narasi yang sudah lazim, berulang kali merujuk pada serangan tahun 2023 untuk membenarkan kelanjutan perang di Gaza.
Dia juga merinci “perang tujuh front” yang telah dilancarkan Israel sejak saat itu terhadap musuh-musuhnya di wilayah tersebut. Sambil memegang peta berjudul “Kutukan” sebagai alat bantu visual, ia menyebutkan musuh-musuh yang pernah dihadapi Israel di kawasan tersebut, termasuk Gaza, Yaman, Iran, Suriah, Lebanon, dan milisi Irak.
Netanyahu secara khusus mengecam sekutu-sekutu Barat Israel, tapi tidak terhadap AS, yang selama ini menjadi pembela setia negaranya di PBB dan pendukung militer utama Israel. Karena itu, tidaklah aneh ketika anggota delegasi AS yang hadir terlihat bertepuk tangan sepanjang pidato Netanyahu.
Netanyahu membantah Israel melakukan genosida di Gaza, meski kejahatan ini sudah ditemukan oleh penyelidik PBB dan oleh banyak pakar. Dia juga membantah Israel sengaja membuat penduduk Gaza kelaparan, tempat bencana kelaparan telah dinyatakan, dan menyalahkan Hamas sembari menuduhnya mencuri bantuan ke wilayah tersebut dan menjualnya untuk membiayai perang.
Pada akhir Juni, sebuah laporan internal oleh badan pembangunan AS, USAID, menyimpulkan bahwa tidak ada bukti penjarahan sistematis bantuan yang diberikan AS oleh Hamas.
USAID juga menyoroti bagaimana Netanyahu gagal menyajikan rencana perdamaian untuk menjamin pembebasan tawanan Israel yang ditahan di Gaza.
Pemerintah Gaza juga mengkritik pidato tersebut dan mengatakan bahwa Netanyahu mempromosikan “delapan kebohongan besar” di Sidang Umum PBB dalam upaya untuk membenarkan kejahatan perang dan genosida yang dilakukannya di Gaza.(mm/alalam/aljazeera)