NewYork, LiputanIslam.com – Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, pada Rabu malam (24/9) menegaskan negaranya sama sekali tidak bermaksud dan berusaha memproduksi senjata nuklir.
Berikut ini beberapa poin pidatonya;
Fatwa Pemimpin Besar
Pezeshkian menekankan bahwa tidak adanya maksud dan upaya membuat bom nuklir bersifat final dan berdasarkan fatwa pemimpin besar dan otoritas keagamaan Iran, dan Iran menentang keras segala bentuk kompetisi senjata nuklir.
Agresi terhadap Berbagai Negara
Presiden Iran menekankan bahwa agresi Israel terhadap Iran dan berbagai negara lain terjadi dengan dukungan kekuatan militer terkuat di dunia, AS, dan dengan dalih membela diri, dan bahwa Iran telah menjadi sasaran serangan serius dan pembunuhan para ilmuwan dan komandan militer, dan bahwa anak-anak dan kaum perempuan dibantai setiap hari di Gaza dan properti dihancurkan secara sistematis.
Ancaman terhadap Stabilitas Internasional
Pezeshkian mengatakan bahwa kelanjutan situasi tersebut mengancam stabilitas semua negara, sembari menyinggung peristiwa tragis yang disaksikan dunia selama dua tahun terakhir, termasuk genosida di Gaza, penghancuran infrastruktur di Suriah, serangan terhadap Yaman, dan penargetan langsung para pemimpin berbagai bangsa.
Agresi Israel terhadap Iran
Presiden Iran menekankan bahwa agresi Israel terhadap Iran merupakan pengkhianatan terhadap diplomasi dan serangan terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Ditujukan kepada para pemimpin negara-negara dunia, dia mengatakan, “Apakah Anda menerima jika fasilitas Anda diserang, jurnalis Anda menjadi sasaran, dan ilmuwan Anda dibunuh?”
Proyek “Israel Raya” dan Bahaya Ekspansi Agresif
Pezeshkian menyatakan bahwa gagasan “Israel Raya” adalah ilusi yang mengungkap tujuan sebenarnya dari Rezim Zionis Israel. Dia menekankan bahwa di dunia ini tak ada yang aman dari niat ekspansionis dan agresif rezim ini.
Seruan Aksi
Pezeshkian menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan pelanggaran Israel dan melindungi warga sipil sebelum semakin jauh terlambat. Dia menuntut pertanggungjawaban negara-negara pendukung kebijakan agresif Israel dengan dalih keamanan dan pertahanan, serta memperingatkan bahwa kelanjutan pendekatan ini akan merusak harapan akan adanya solusi damai dan bijaksana bagi konflik-konflik regional.
Program Nuklir Iran
Menanggapi ulah Eropa terhadap Iran belakangan ini, Pezeshkian mengatakan, “Tindakan ilegal yang diambil oleh negara-negara Eropa dengan mengaktifkan ‘mekanisme pemicu’ tidak memiliki legitimasi internasional dan tidak dapat diterima.” Dia juga menegaskan kembali bahwa Iran tidak pernah dan tidak akan berusaha memiliki senjata nuklir, dan bahwa program nuklirnya sepenuhnya bertujuan damai.
Presiden Iran menekankan bahwa Israel sedang mengganggu stabilitas dunia, sementara Eropa justru menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Dia menekankan keharusan menghormati hukum internasional dan menghindari standar ganda, serta menyerukan tindakan internasional yang adil untuk mencegah kekacauan dan konflik lebih lanjut.
Komitmen terhadap Hukum Internasional
Presiden Iran menyebut serangan-serangan Israel bertujuan untuk menggagalkan upaya mencapai stabilitas dan menyelesaikan konflik melalui cara-cara damai, sementara Iran berkomitmen pada prinsip-prinsip hukum internasional dan berupaya menjaga keamanan dan perdamaian.
Seruan Perdamaian dan HAM
Pezeshkian menjelaskan bahwa tema tahun ini, “Delapan Puluh Tahun dan Lebih untuk Perdamaian, Pembangunan, dan HAM,” merupakan seruan untuk solidaritas dan visi bersama demi masa depan yang lebih cerah.
Dia menambahkan bahwa ajaran agama dan seruan semua nabi berlandaskan kesetaraan hak asasi manusia, dan bahwa apa yang menjadikan manusia lebih bermartabat adalah ketakwaan, termasuk kejujuran, kebijaksanaan, kebersihan diri, dan iktikad baik kepada sesama.
Dia juga menekankan kaidah dasar bagi semua agama samawi dan hati nurani manusia, yaitu “Apa yang tidak kau sukai bagi dirimu sendiri, jangan lakukan kepada orang lain.”
Presiden Pezeshkian menutup pidatonya dengan mengatakan, “Dunia saat ini perlu menyatukan upaya melawan praktik-praktik yang tidak adil, dan bersatu melawan agresi dan terorisme.” (mm/alalam)