Teheran, LiputanIslam.com – Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan musuh besarnya, Amerika Serikat (AS) dan Israel, bahwa akan ada balasan “mematikan” dari Iran jika negara republik Islam ini kembali diserang oleh dua kekuatan jahat tersebut.
“Jika terjadi kesalahan perhitungan atau agresi baru oleh musuh, maka Republik Islam Iran akan mengambil inisiatif di medan perang dengan posisi komando dan memberikan respon mematikan lainnya,” ungkap IRGC dalam sebuah pernyataan pada momen Pekan Pertahanan Suci, peringatan peristiwa perang Iran-Irak pada tahun 1980-1988, Minggu (21/9).
IRGC menekankan bahwa peringatan 45 tahun perang delapan tahun tersebut terjadi tak lama setelah agresi ilegal Israel-AS terhadap Iran, merupakan sebuah episode yang hanya memperkuat persatuan nasional Iran serta mengungkap kegagalan rezim agresor dalam mewujudkan tujuan jahatnya.
“Kekalahan musuh dalam dua perang yang dipaksakan, dan kegagalan mereka dalam pertempuran keamanan, politik, ekonomi, psikologis, dan media yang bertujuan menciptakan kekacauan dan mendestabilisasi negara, menunjukkan bahwa bangsa Iran, melalui kewaspadaan, wawasan, dan persatuan suci, berdiri kokoh bagai benteng baja melawan perang hibrida musuh dan menggagalkan rencana mereka,” tambahnya.
IRGC menegaskan bahwa pihaknya, bersama unit-unit lain dari Angkatan Bersenjata Iran, sedang meningkatkan kemampuan tempur, kekuatan ofensif dan defensif, serta kapasitas strategisnya.
“Pengalaman Republik Islam dalam pertahanan suci, baik selama perang yang dipaksakan Irak maupun agresi Israel-AS belakangan ini, menunjukkan bahwa ‘penangkalan efektif’ berasal dari kesiapan yang konstan, inovasi strategis dan taktis, perencanaan operasional dalam pertempuran, serta kemajuan berkelanjutan teknologi dan sistem pertahanan dan militer,” catat pernyataan tersebut.
Pada 13 Juni, Israel melancarkan agresi secara terbuka terhadap Iran, hingga memicu perang 12 hari yang menggugurkan sedikitnya 1.064 orang di Iran, termasuk sejumlah komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.
AS juga melibatkan diri dalam perang tersebut dengan mengebom tiga situs nuklir Iran. Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran menyerang balik lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan Palestina serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar, yang merupakan basis militer AS terbesar di Asia Barat (Timteng).
Pada 24 Juni, melalui operasi balasannya yang berhasil terhadap rezim Israel dan AS, Iran secara efektif menghentikan serangan teroris yang sedang berlangsung. (mm/presstv)