Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, menyerukan kepada Arab Saudi untuk membuka “halaman baru” dengan Hizbullah, berdasarkan dialog yang membahas isu-isu masa lalu dan mengamankan kepentingan masa depan.
Syeikh Qassem menyampaikan seruan ini dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Jumat (19/9) pada peringatan satu tahun pembunuhan pemimpin dewan militer Hizbullah, Ibrahim Aqeel, oleh Israel pada 20 September 2024, bersama dengan para pemimpin Pasukan Radwan Hizbullah lainnya.
Dia mengatakan, “Saya menyerukan kepada Arab Saudi untuk membuka halaman baru dengan kubu perlawanan (Hizbullah) berdasarkan prinsip-prinsip berikut: Pertama, dialog yang membahas isu-isu, mengatasi kekhawatiran, dan mengamankan kepentingan. Kedua, dialog yang didasarkan pada fakta bahwa Israel adalah musuh, bukan kubu perlawanan. Ketiga, dialog yang membekukan perselisihan masa lalu, setidaknya pada tahap ini, untuk kepentingan pengekangan Israel.”
Syeikh Qassem memperingatkan bahwa “seluruh kawasan (Timur Tengah) sedang menghadapi titik balik yang krusial.”
Dia menyebutkan bahwa situasi setelah serangan Israel terhadap Qatar menjadi “berbeda dari sebelumnya.” Menurutnya, target Israel “meluas ke Palestina, Lebanon, Yordania, Mesir, Suriah, Irak, Arab Saudi, Yaman, dan Iran.”
Qassem memastikan senjata Hizbullah “hanya ditujukan kepada musuh, Israel, bukan kepada Arab Saudi atau pihak mana pun di dunia, dan bahwa pendekatan ini akan terus berlanjut.”
Dia menegaskan,”Menekan kubu perlawanan merupakan keuntungan bersih bagi Israel, dan ketiadaan perlawanan akan membahayakan negara lain.”
Hizbullah telah berulang kali menyatakan menolak menyerahkan senjatanya kepada pemerintah Lebanon, yang mendapat tekanan dari AS dan Israel dalam masalah ini.
Tentang ini, Syeikh Qassem menegaskan, “Mereka yang menuntut agar kubu perlawanan menyerahkan senjatanya harus terlebih dahulu menuntut penarikan pasukan agresor (Israel). Tidak masuk akal bagi Anda untuk tidak mengkritik rezim pendudukan (Israel), dan hanya menuntut agar mereka yang melawannya menyerahkan senjata mereka.”
Dia menambahkan, “Mereka yang menerima penyerahan diri harus menanggung keputusan mereka; kami tidak akan menerimanya.”
Pada Oktober 2023, Israel melancarkan agresi terhadap Lebanon, yang pada September 2024 meningkat menjadi perang skala penuh, menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya.
Hizbullah dan Israel telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada November 2024, namun Israel melanggarnya lebih dari 4.500 kali, yang mengakibatkan setidaknya 273 korban jiwa dan 622 korban luka, menurut data resmi. (mm/raialyoum)