Beirut, LiputanIslam.com – Israel melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Lebanon selatan, Kamis (18/9), tak lama setelah militer rezim Zionis itu memerintahkan penduduk kota Meiss al-Jabal, Kfar Tibnit, dan Debbin di provinsi Nabatieh, Lebanon selatan, untuk mengungsi dari rumah mereka.
Tentara Lebanon mengutuk kontinyuitas pelanggaran Israel atas gencatan senjata rapuh dengan Lebanon yang telah berlaku sejak November 2024. Jumlah pelanggaran itu tercatat telah mencapai lebih dari 4.500.
Tentara Lebanon dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa serangan Israel menghantam desa-desa di selatan dan daerah berpenduduk lainnya, hingga mengakibatkan jatuhnya korban sipil, dan bertentangan dengan klaim Israel bahwa serangan tersebut ditujukan terhadap target-target Hizbullah.
“Pelanggaran berulang ini, termasuk serangan di darat, laut, dan udara, serta serangan terhadap penduduk perbatasan dengan menggunakan alat pembakar dan penghancuran rumah, menghambat operasi militer di Lebanon selatan,” ungkap tentara Lebanon.
Militer Lebanon menambahkan bahwa pelanggaran yang berkelanjutan dapat menghambat rencana penempatan pasukannya di selatan Sungai Litani.
Pada Rabu malam, dua orang gugur akibat serangan Israel di Lebanon timur.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon menyatakan korban jiwa dilaporkan jatuh setelah sebuah pesawat nirawak Israel menghantam sebuah mobil di kota Baalbek.
Setelah hampir 14 bulan perang yang ditandai dengan kerugian besar dan kegagalan mencapai tujuannya dalam agresi terhadap Lebanon, Israel terpaksa menyetujui gencatan senjata dengan Hizbullah, yang mulai berlaku pada 27 November.
Namun, sejak itu, pasukan Israel melakukan serangan udara terhadap Lebanon, sehingga praktis melanggar gencatan senjata.
Pada 27 Januari, Lebanon mengumumkan keputusannya memperpanjang gencatan senjata dengan Israel hingga 18 Februari.
Meski demikian, Israel tetap menduduki lima lokasi penting di Lebanon selatan, termasuk Labbouneh, Gunung Blat, Bukit Owayda, Aaziyyeh, dan Bukit Hammamis, yang semuanya terletak di dekat perbatasan.
Serangan udara Israel terjadi hampir setiap hari dan pelanggaran berkelanjutan terhadap wilayah udara dan kedaulatan Lebanon, namun Hizbullah tetap menjadi satu-satunya entitas militer kredibel yang mampu menantang rezim pendudukan dan menggagalkan intrusi Israel lebih lanjut.
Seiring meningkatnya tuntutan Washington dan Israel untuk melucuti senjata Hizbullah, banyak tokoh Lebanon menilai upaya tersebut mengabaikan masalah mendasar berupa pelanggaran Israel yang terus berlanjut terhadap kedaulatan Lebanon. (mm/presstv)