Teheran, LiputanIslam.com – Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menekankan bahwa dimulainya kembali inspeksi secara penuh di fasilitas-fasilitas Iran bergantung pada penerapan langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan fasilitas nuklir Iran setelah serangan AS dan Zionis beberapa waktu lalu. Dia menilai kewajiban inspeksi tidak ada artinya jika tidak disertai dengan penghormatan terhadap hak-hak negara.
“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, fasilitas-fasilitas yang tunduk pada sistem pengamanan menjadi sasaran serangan militer….Sebelum inspeksi dapat kembali normal, langkah-langkah luar biasa harus diambil,” kata Eslami dalam wawancara dengan Kyodo News Jepang, seperti dikutip al-Alam, Rabu (17/9).
Menurutnya, situasi keamanan di Iran dewasa ini lebih menyerupai “kondisi masa perang” karena masih ada ancaman serangan baru Israel.
“Kepercayaan antara Iran dan IAEA harus dibangun kembali. Tidak ada negara yang menempatkan kewajiban internasionalnya di atas kedaulatan dan keamanan nasionalnya,” imbuhnya.
Dia menjelaskan bahwa setelah serangan terhadap fasilitas Fordow, Natanz, dan Isfahan pada 13 Juni 2025, parlemen Iran memutuskan untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA, yang secara efektif menghentikan kegiatan inspeksinya.
Eslami mengungkapkan bahwa Teheran dan IAEA mencapai kesepahaman pada 9 September 2025 untuk membentuk mekanisme pengawasan baru dalam “fase pascaperang.” Dia mengonfirmasi bahwa Iran telah melanjutkan beberapa inspeksi internal terbatas, termasuk di pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr. Namun, parlemen tetap khawatir akan potensi “kebocoran informasi” dan terungkapnya kerentanan.
Sebagai kritikan atas”politisasi” berkas nuklir Iran, Eslami mengatakan, “Negara-negara Barat mengeksploitasi IAEA untuk mencapai tujuan politik mereka. Washington bahkan mengancam akan memotong anggaran badan tersebut jika anggotanya mendukung rancangan resolusi yang mengutuk Israel.”
Dia menyebut kegagalan IAEA mengutuk serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai “kesalahan yang tak termaafkan”.
“Sikap ini akan tercatat dalam sejarah. Kami berharap Rafael Grossi (Dirjen IAEA) setidaknya mengakui dampak serius dari serangan demikian terhadap sistem keselamatan dan pengamanan nuklir,” sambungnya.
Eslami menekankan komitmen Teheran pada haknya menggunakan energi nuklir secara damai dalam bingkai Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
“Kewajiban pemantauan tidak ada artinya jika tidak berbanding lurus dengan penghormatan kepada hak-hak yang sah,”pungkasnya. (mm/alalam)