Doha, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pertemuan puncak darurat Arab-Islam di Doha, ibu kota Qatar, Senin (15/9), mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Qatar pada 9 September menunjukkan bahwa tidak ada negara Arab atau Muslim yang aman dari agresi rezim Zionis tersebut.
Seperti diketahui, Israel berusaha membunuh para pemimpin Hamas saat mereka justru sedang membahas usulan AS untuk gencatan senjata di Jalur Gaza.
Pezeshkian mengatakan serangan Israel itu bertujuan melemahkan upaya diplomatik untuk mengakhiri genosida di Gaza, merupakan “terorisme murni” dan “agresi terhadap diplomasi”, dan membuktikan bahwa rezim pendudukan itu tidak memiliki batasan moral dan hukum.
“Serangan terhadap Doha telah mengubah banyak pertimbangan dan pemikiran yang keliru, menunjukkan bahwa tidak ada negara Arab atau Muslim yang aman dari agresi rezim Tel Aviv. Besok, bisa saja ibu kota Arab dan Islam mana pun (menjadi target serangan). Pilihannya jelas: kita harus bersatu,” ujarnya.
Presiden Iran juga menilai serangan terhadap Doha menunjukkan keputusasaan dan ketidakberdayaan Israel.
Menurutnya, agresi tersebut juga merupakan akibat tak terelakkan dari impunitas yang diberikan kepada Israel selama puluhan tahun oleh beberapa kekuatan Barat melalui bantuan diplomatik, militer, dan keuangan mereka.
“Rezim Israel telah mengebom beberapa negara Muslim pada tahun 2025. Setiap serangan dan agresi oleh rezim ini dijustifikasi sebagai pembelaan yang sah, dan selalu direspon dengan tanggapan ambigu dari negara-negara Barat dan kecaman kosong,” ungkapnya.
Pezeshkian juga mengatakan bahwa kejahatan Israel adalah “bagian dari doktrin dominasi, pembersihan, dan penebaran rasa takut.”
Tindakan Israel, katanya, tergolong “strategi pembersihan etnis, ekspansionisme, dan agresi yang diperkuat oleh keterlibatan AS dan beberapa negara Barat.”
Pezeshkian mendesak negara-negara Muslim untuk mengisolasi Israel, menghentikan persenjataan dan pendanaannya, serta meminta pertanggungjawaban para pemimpinnya di pengadilan. Namun, Pezeshkian mengatakan hal ini akan efektif melalui persatuan.
“Rezim Israel telah menyatakan perang terhadap kedaulatan, martabat, dan masa depan kami. Sebagai tanggapan, kami menyatakan: kami tidak akan diintimidasi, kami tidak akan terpecah belah, dan kami tidak akan tinggal diam,” tegasnya.
Dalam pidatonya di KTT tersebut, Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, mengecam serangan Israel yang menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar sebagai tindakan “pengecut” dan “berbahaya”. (mm/presstv)