Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan kepada negara-negara Muslim untuk meningkatkan kerja sama dan interaksi di semua sektor guna melawan “hukum rimba” rezim Zionis Israel terhadap negara-negara di kawasan Asia Barat (Timteng).
Araghchi mengatakan Republik Islam Iran mengajak semua negara Muslim untuk meningkatkan kemitraan dan kerja sama di semua bidang guna mengabdi kepada bangsa mereka dan melawan hukum rimba, yang sedang diterapkan oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Barat.
Dalam sebuah wawancara dengan situs web berita Arabi 21, dia mendesak negara-negara Muslim dan Asia Barat untuk segera bertindak guna menghentikan perang dan pembantaian serta melawan rencana rezim di Palestina dan seluruh kawasan sekitar.
Dia menyinggung beberapa pertemuan Arab, Islam, dan internasional yang telah diselenggarakan terkait Palestina, yang sejauh ini belum membuahkan hasil. Dia mengatakan bahwa rakyat Palestina tidak hanya membutuhkan retorika, melainkan lebih membutuhkan makanan, obat-obatan, pemenuhan semua kebutuhan mereka, dan diakhirinya penindasan yang mereka alami.
Araghchi mengatakan bahwa agresi Israel baru-baru ini, yang mengincar pimpinan politik Hamas di Qatar mengingatkan pada serangan dan kejahatan teror serupa yang dilakukan oleh Israel terhadap ilmuwan dan politisi Iran.
“Serangan itu serupa dengan kejahatan Israel terhadap para pemimpin front perlawanan Palestina dan Lebanon selama dua tahun terakhir di Iran, Lebanon, Palestina, Suriah, dan wilayah lainnya,” ujarnya.
Dia mengatakan bahwa tindakan tersebut menandakan bahwa Israel tidak mengindahkan garis merah apa pun.
Pada 9 September, Israel melancarkan serangan udara terhadap markas Hamas di Doha. Serangan ini disebut sebagai “operasi pembunuhan” dan telah merenggut nyawa beberapa anggota Hamas serta seorang petugas keamanan Qatar.
Para petinggi Hamas, termasuk Khalil al-Hayya, Khaled Meshal, dan Zaher Jabarin, selamat dari upaya pembunuhan tersebut.
Qatar telah menjadi mediator regional utama dalam negosiasi antara Hamas dan Israel, yang Perdana Menterinya, Benjamin Netanyahu, pada 10 September mengancam akan mencoba membunuh para pemimpin Hamas di Qatar lagi jika Doha “tidak mengusir” mereka.
Araghchi memperingatkan bahaya agresi Israel terhadap wilayah Suriah dan Lebanon, serta proyek kolonial baru rezim tersebut untuk memecah belah Suriah dan menduduki lebih banyak wilayah negara ini, terutama di wilayah selatan dan daerah pendudukan Dataran Tinggi Golan.
Dia juga menyerukan negara-negara Arab, Muslim, dan Asia untuk mengambil tindakan kolektif guna menggagalkan rencana disintegrasi Suriah dan perluasan wilayah pengaruh rezim Israel dalam mengejar “mitos Israel Raya”. (mm/presstv)