Sanaa, LiputanIslam.com – Utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, pada hari Minggu (31/8), menyatakan bahwa pasukan Houthi (Ansarullah) menciduk setidaknya 11 staf PBB menyusul tewasnya perdana menteri Yaman kubu Ansarullah dan beberapa menterinya akibat serangan udara Israel di Ibu Kota Sanaa.
Keterbunuhan kepala pemerintahan di Sanaa memicu kemarahan di kalangan pimpinan Ansarullah, yang bersumpah untuk melanjutkan serangannya terhadap Israel untuk mendukung Jalur Gaza, dalam pola yang “berkelanjutan dan meningkat”.
Gerakan Ansarullah di Sanaa pada Senin akan melakukan prosesi pemakaman perdana menteri mereka, Ahmad Ghaleb al-Rahwi, dan beberapa menterinya, yang gugur akibat serangan udara Israel saat sedang rapat pada hari Kamis.
Program Pangan Dunia (WFP) sebelumnya dalam pernyataan berbahasa Inggris pada hari Minggu melaporkan, “Pada pagi hari tanggal 31 Agustus, pasukan keamanan setempat menyerbu kantor WFP di Sanaa dan menahan salah satu stafnya, dan ada laporan penangkapan staf WFP lainnya di wilayah lain.”
Badan PBB tersebut menganggap “penahanan sewenang-wenang terhadap pekerja bantuan kemanusiaan tidak dapat diterima. Keselamatan dan keamanan staf sangat penting untuk melaksanakan pekerjaan kemanusiaan yang menyelamatkan jiwa.”
Sementara itu, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dalam pernyataan berbahasa Inggris pada Minggu malam menyatakan, “Pada pagi hari tanggal 31 Agustus, pasukan keamanan setempat menyerbu kantor UNICEF di Sanaa dan menahan sejumlah stafnya,” tanpa menyebutkan jumlahnya.
Seorang sumber keamanan Ansarullah mengatakan kepada AFP bahwa “tujuh pegawai WFP dan tiga pegawai UNICEF ditangkap” setelah kantor kedua badan PBB tersebut digerebek.
Al-Rahwi adalah pejabat politik paling senior Yaman yang gugur dalam konfrontasi Yaman-Israel terkait perang di Jalur Gaza.
Seorang warga Sanaa, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, mengatakan, “Serangan terhadap pertemuan tingkat menteri dengan beberapa rudal, tentu saja, merupakan serangan pengecut dan brutal oleh musuh yang agresif dan zalim.”
Warga lainnya, Ali, yang memilih untuk menggunakan nama depannya, mengatakan, “Ini adalah serangan terang-terangan tidak hanya terhadap individu, melainkan juga terhadap kedaulatan seluruh bangsa.”
Keterbunuhan Al-Rahwi disusul serangkaian penangkapan terhadap puluhan orang yang dicurigai menjadi mata-mata Israel.
Sebuah sumber keamanan Yaman mengatakan kepada AFP pada hari Sabtu bahwa otoritas Ansarullah telah menangkap puluhan orang di ibu kota, Amran, utara Sanaa, dan Dhamar, selatan ibu kota, “atas dugaan bekerja sama dengan Israel.”
Ansarullah telah menahan puluhan pegawai PBB dan pegawai organisasi kemanusiaan lokal dan internasional selama lebih dari setahun atas tuduhan “spionase.”
Pemimpin Ansarullah Sayyid Abdul Malik al-Houthi mengancam Israel dengan serangan rudal dan pesawat nirawak yang “berkelanjutan, stabil, dan meningkat.”
“Serangan terhadap Israel dengan rudal dan pesawat nirawak adalah langkah yang berkelanjutan, stabil, dan meningkat,” katanya dalam pidato televisi pada hari Minggu. Dia memastikan serangan Israel tersebut “tidak akan mengarah pada kemunduran, kelemahan, atau kehinaan” bagi Yaman.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman, Mayjen Mohammed Abdul Karim Al-Ghamari, mengatakan Israel tahu persis bahwa dengan melakukan kejahatan keji ini, mereka telah membuka gerbang neraka bagi diri mereka sendiri. (mm/raialyoum/alalam)