Sanaa, LiputanIslam.com – Unit pasukan rudal Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan serangan militer terhadap Bandara Lod (Ben Gurion) di wilayah pendudukan Jaffa (Tel Aviv) dengan menggunakan rudal balistik hipersonik “Palestine 2”.
Operasi tersebut dinyatakan berhasil mencapai tujuannya, menyebabkan jutaan pemukim Israel panik mencari tempat perlindungan, dan menangguhkan aktivitas Bandara.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (27/8), mengenai serangan itu juga menyindir umat Islam.
“Pengakuan dunia atas besarnya penderitaan yang dihadapi saudara-saudara kami di Gaza akibat kelaparan, blokade, dan agresi telah membuat bangsa Arab dan Islam berhadapan dengan tanggung jawab agama dan sejarah besar,”ungkapnya.
Saree menyerukan pengambilan tindakan nyata untuk mengakhiri kelaparan, mencabut blokade, dan menghentikan agresi terhadap Gaza.
Dia juga menekankan bahwa Yaman “sebagai Ansar dan Islam, berada pada posisi terhormat dalam memenuhi kewajibannya terhadap kaum tertindas di Palestina,” dan bahwa “Angkatan Bersenjata Yaman tidak akan mengubah pendiriannya dalam mendukung Gaza, apapun tantangannya, hingga blokade dicabut dan agresi dihentikan.”
Pernyataan ini merupakan pengumuman pertama Angkatan Bersenjata Yaman terkait Israel sejak Israel melancarkan serangan udara pada hari Minggu lalu terhadap dua stasiun pembangkit listrik dan bahan bakar di ibu kota, Sanaa, hingga menggugurkan 10 warga Yaman dan melukai 92 orang, menurut data resmi Yaman.
Sebelumnya pada hari Rabu, Otoritas Penyiaran Israel (IAO) mengumumkan bahwa lalu lintas udara di Bandara Ben Gurion telah dihentikan sementara setelah sirene serangan udara membahana di sebagian besar bagian tengah wilayah Palestina pendudukan akibat rudal yang ditembakkan dari Yaman.
Pasukan Yaman melancarkan serangan terhadap Israel sebagai balasan atas genosida Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Didukung AS, Israel terus melakukan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, termasuk dengan pembantaian, pelaparan, penghancuran, dan pemindahan paksa, sembari mengabaikan semua seruan internasional dan perintah dari Mahkamah Internasional untuk menghentikannya.
Genosida tersebut telah menggugurkan 62.895 warga Palestina, melukai 158.927 orang, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan perempuan, serta menyebakan lebih dari 9.000 orang hilang, ratusan ribu orang mengungsi, dan menimbulkan kelaparan yang telah merenggut nyawa 313 warga Palestina, termasuk 119 anak-anak, hingga Rabu. (mm/alalam/raialyoum)