Ankara, LiputanIslam.com – Para menteri luar negeri negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan membahas perang genosida Israel di Gaza pada hari Senin (25/8) dalam pertemuan darurat yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, yang saat ini menjabat sebagai ketua majelis.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Turki pada hari Minggu (24/8) menyebutkan bahwa pertemuan itu akan membahas “genosida Israel yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina dan keputusan Israel untuk memperluas operasinya di Gaza.”
Pada hari Kamis, OKI mengumumkan niatnya menggelar pertemuan darurat tingkat menteri pada hari Senin guna mengoordinasikan pendirian dan upaya bersama untuk menghadapi keputusan dan rencana Zionis untuk memperkuat pendudukan dan kendali penuh Israel atas Jalur Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabaikan penantian para mediator atas tanggapan Tel Aviv kepada usulan gencatan senjata di Jalur Gaza. Pada Rabu lalu dia mengumumkan telah memerintahkan percepatan rencana pendudukan Kota Gaza (yang disetujui pada 8 Agustus), di tengah peringatan internasional bahwa hal ini akan menyebabkan kehancuran total Jalur Gaza dan meningkatkan penderitaan serta pengungsian warga Palestina.
Dengan dukungan Amerika Serikat, Israel telah melakukan kejahatan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, termasuk pembunuhan, pelaparan, penghancuran, dan pengungsian paksa, sembari mengabaikan semua seruan internasional dan perintah dari Mahkamah Internasional untuk penghentian operasi tersebut.
Genosida tersebut menggugurkan 62.622 warga Palestina dan melukai 157.673 orang. Para korban sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Selain itu, lebih dari 9.000 orang hilang, ratusan ribu orang mengungsi, dan bencana kelaparan menewaskan 281 warga Palestina, termasuk 114 anak-anak, hingga Sabtu.
Selama beberapa dekade, Israel telah menduduki Palestina dan wilayah-wilayah di Suriah dan Lebanon, dan menolak pendirian negara Palestina merdeka dengan Al-Quds (Yerusalem) Timur sebagai ibu kotanya, berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967. (mm/raialyoum)