Baghdad, LiputanIslam.com – Berbagai negara Arab mengecam pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai apa yang disebut visi “Israel Raya”.
Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Kamis (14/8), Kementerian Luar Negeri Irak menyebut pernyataan itu “provokasi terang-terangan terhadap kedaulatan, pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).”
Pernyataan Netanyahu, menurut kementerian itu, mengungkapkan “ambisi ekspansionis entitas ini dan menegaskan upayanya untuk mengganggu stabilitas” perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Barat (Timur Tengah).
Irak menyerukan sikap yang jelas dan tegas dari umat Muslim, Arab, dan internasional untuk menghadapi “agenda ekspansionis” Israel.
Kementerian tersebut memperingatkan bahwa wacana politik Zionis yang didasarkan pada “ekspansionisme dan aneksasi memerlukan tindakan efektif untuk mengakhiri pelanggaran dan menghentikan kebijakan impunitas.”
Sebelumnya, kepada media Israel Netanyahu mengaku merasa memiliki keterikatan yang mendalam dengan “visi” “Israel Raya”, yang merujuk pada wilayah Palestina yang diduduki Israel serta sebagian Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon. Dia juga menyebutnya “misi historis dan spiritual.”
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan pihaknya menolak “gagasan dan proyek permukiman dan ekspansionis” yang diadopsi oleh otoritas Israel.
“Kerajaan (Saudi) memperingatkan masyarakat internasional terhadap pendudukan Israel yang terus-menerus melakukan pelanggaran mencolok yang merusak fondasi legitimasi internasional, secara terang-terangan melanggar kedaulatan negara, dan mengancam keamanan serta perdamaian regional dan global,” ungkapnya.
Sekjen Dewan Kerja Sama Teluk Persia (GCC) Jasem Albudaiwi menilai pernyataan Netanyahu sebagai serangan terang-terangan terhadap kedaulatan dan persatuan negara-negara Arab.
Dia memperingatkan bahwa pernyataan itu merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas regional dan global. Dia menegaskan kembali penolakan tegas GCC terhadap segala upaya yang merusak integritas teritorial negara-negara Arab.
Albudaiwi mendesak masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas terhadap provokasi dan melindungi kawasan dari langkah-langkah yang dapat memicu ketegangan dan membahayakan prospek perdamaian yang adil dan komprehensif.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Sufian Qudah, memperingatkan bahwa “klaim dan ilusi” ini memicu “spiral kekerasan dan konflik” yang sedang berlangsung.
Qudah mendesak masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan guna “menghentikan semua tindakan dan pernyataan provokatif Israel yang mengancam stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan internasional.”
Sekjen Liga Arab mengecam keras pernyataan Netanyahu dan segala upaya Israel untuk merebut sebagian wilayah negara-negara Arab yang berdaulat demi menciptakan apa yang disebut “Israel Raya”.
Dia memperingatkan bahwa pernyataan itu menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional kolektif Arab dan merupakan tantangan nyata terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip legitimasi internasional.
Menurut Sekjen Liga Arab, pernyataan Netanyahu mengungkap niat ekspansionis dan agresif rezim yang “tak tertahankan”.
Dalam beberapa bulan terakhir, Israel melancarkan serangkaian perang besar-besaran di Gaza, Lebanon selatan, dan Suriah selatan. Israel juga mengancam akan menduduki sebagian wilayah Mesir, Yordania, dan beberapa negara Arab lainnya.
Namun, Israel menderita kekalahan telak setelah melancarkan agresi yang terang-terangan dan tanpa alasan terhadap Iran pada 13 Juni.
Pernyataan Netanyahu mengemuka di tengah agresi brutal Israel terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang sejauh ini telah menewaskan hampir 61.722 warga Palestina dan melukai 154.525 lainnya. (mm/presstv)