Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa “upaya melucuti senjata Hizbullah bukanlah hal baru,” karena “upaya demikian sebelumnya juga sudah pernah dilakukan setelah medan perang membuktikan efektivitas senjata kubu perlawanan”.
“Beberapa pihak yang meyakini Hizbullah telah melemah kembali mengangkat gagasan perlucutan senjata dan mendorongnya ke garis depan..Namun, sikap tegas yang diungkapkan oleh Sekjen Hizbullah dalam pernyataannya belakangan ini membuktikan bahwa Hizbullah akan tetap teguh dalam menghadapi segala tekanan,” ungkap Araghchi dalam wawancara dengan televisi Iran, Rabu (6/8).
Dia juga menyebutkan bahwa tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Sekjen Hizbullah sendiri, Syeikh Naim Qassem, serta Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, telah menegaskan dukungan mereka kepada Hizbullah dan menekankan bahwa Hizbullah saat ini justru “berada di puncak kekuatannya.”
Araghchi memastikan bahwa kerugian yang diderita Hizbullah dalam perang melawan Israel beberapa waktu lalu “telah dibenahi, karena partai tersebut telah direorganisasi dan pasukannya dikerahkan, dengan para pemimpin baru yang ditunjuk.”
“Hizbullah sekarang memiliki kapasitas yang memadai untuk mempertahankan diri,” ujarAraghchi.
Araghchi juga menekankan bahwa keputusan mengenai tindakan Hizbullah di masa mendatang “dibuat oleh para pemimpinnya,” dan menyatakan bahwa Iran “memberikan dukungan tanpa ikut campur dalam keputusan-keputusan ini.”
Sehari sebelumnya, pemerintah Lebanon mengumumkan pihaknya telah menugaskan Angkatan Bersenjata Lebanon untuk mengembangkan rencana implementasi pembatasan persenjataan di tangan pemerintah, sebelum akhir tahun dan menyerahkannya kepada Dewan Menteri untuk dibahas paling lambat tanggal 31 Agustus.
Sementara itu, Iran telah mengeksekusi mati seorang agen Mossad bernama Ruzbeh Vadi karena terbukti telah melakukan aksi spionase untuk kepentingan Israel di Iran, termasuk memberikan informasi kepada Israel mengenai seorang ilmuwan nuklir Iran yang gugur akibat serangan Israel dalam perang 12 hari Iran VS Israel pada bulan Juni lalu. (mm/alalam)