Gaza, LiputanIslam.com – Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, mengumumkan peledakan ranjau darat berdaya ledak tinggi terhadap buldoser militer Israel di Jabalia.
Dalam pernyataan singkatnya, Brigade Al-Qassam, pada hari Kamis (31/7) menyatakan bahwa para pejuangnya “setelah kembali dari garis pertempuran, menginformasikan peledakan ranjau darat berdaya ledak tinggi terhadap buldoser militer Israel D9 di dekat Masjid Al-Omari di Jabalia, bagian utara Jalur Gaza, pada 28 Juli 2025.”
Faksi-faksi pejuang Palestina terus mendokumentasikan operasi mereka melawan pasukan pendudukan Zionis sejak dimulainya serangan darat ke Jalur Gaza pada 27 Oktober 2023. Mereka melakukan penyergapan yang mengakibatkan kerugian manusia dan material yang signifikan di pihak Israel, selain menjatuhi kota-kota dan permukiman dengan roket jarak menengah dan jauh.
Pasukan Israel, yang didukung oleh AS dan Eropa, telah melanjutkan agresinya terhadap Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023, mencegah masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Agresi militer dalam bentuk genosida di Gaza sejauh ini telah menjatuhkan korban jiwa lebih dari 60.000 warga Palestina dan korban luka lebih dari 147.000 orang.
Sementara itu, Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyebut perang di Jalur Gaza ilegal dan bermotif pribadi.
“Perang Gaza adalah perang ilegal yang dilancarkan untuk kepentingan pribadi dan politik perdana menteri (Benjamin Netanyahu), dan akibatnya, tentara kita terbunuh,” ujarnya.
“Tidak seorang pun yang bertanggung jawab di Israel dapat menjelaskan apa yang sedang kami lakukan di Gaza,” sambungnya.
Dia juga mengatakan, “Kita telah cukup banyak membunuh dan menghancurkan di Gaza.”
Dia menilai sejumlah insiden di Jalur Gaza dapat dianggap sebagai kejahatan perang, dan karena itu dia menyerukan pengadilan terhadap Netanyahu.
“Netanyahu harus diadili atas kejahatan yang dilakukannya setiap hari terhadap Israel dan rakyatnya,” tegasnya.
Olmert juga mengecam keras rencana “kota kemanusiaan” di Gaza selatan, menyebutnya “menjijikkan” dan berpotensi ditafsirkan sebagai kamp konsentrasi, serta menyebut perumusan rencana demikian sebagai “kejahatan.”
Mantan Perdana Menteri Israel itu menilai Presiden AS Donald Trump sebagai satu-satunya orang yang mampu mengubah keadaan. Menurutnya, jika Trump memberi tahu Netanyahu bahwa situasi di Gaza telah mencapai batasnya maka Netanyahu akan mengambil langkah mundur. (mm/alalam/raialyoum)