Teheran, LiputanIslam.com – Sebulan setelah perang Israel terhadap Iran, yang berakhir setelah AS mengumumkan gencatan senjata tanpa syarat, pendirian Iran menjadi semakin solid, disertai pesan-pesan politik dan militer yang menegaskan bahwa keadaan setelah perang tersebut tidak akan sama dengan sebelumnya.
Dalam pidatonya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya telah “mengalahkan Israel dengan Iron Dome-nya dan Amerika Serikat dengan peralatan militer canggihnya,” dan bahwa “tidak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan bangsa yang bersatu.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mematok kompensasi atas kerugian yang diderita Iran akibat agresi Israel sebagai prasyarat untuk memasuki perundingan nuklir.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Araghchi mengatakan bahwa Iran menuntut kompensasi atas kerusakan yang dideritanya akibat agresi 12 hari tersebut.
Araghchi juga mendesak Washington memberikan penjelasan mengenai alasan di balik agresinya terhadap Iran di tengah negosiasi, dan menyodorkan jaminan bahwa tindakan tersebut tidak akan terulang.
Menteri Luar Negeri Iran menilai bahwa agresi tersebut membuktikan bahwa solusi militer tidak berlaku untuk program nuklir Iran dan bahwa solusi yang dinegosiasikan adalah pilihan yang dapat dicapai.
Dia juga memastikan komitmen Iran kepada program nuklir damainya, dan kepatuhannya kepada fatwa Pemimpin Besarnya, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang mengharamkan produksi senjata nuklir.
Araghchi menjelaskan bahwa Iran berkemampuan membangun kembali fasilitas nuklirnya dan melanjutkan pengayaan uranium, namun waktu dan tempatnya bergantung pada keadaan.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam langkah-langkah baru AS, yang menargetkan individu, lembaga, dan kapal yang terkait dengan sektor energi dan minyak.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengatakan bahwa tindakan demikian merupakan “kejahatan terhadap kemanusiaan,” dan menekankan bahwa Washington “telah kecanduan menggunakan instrumen unilateral dan ilegal yang mengancam tatanan global.” (mm/alalam)