Teheran, LiputanIslam.com – Kurang dari seminggu setelah Presiden AS mengumumkan gencatan senjata tanpa syarat, yang mengakhiri perang 12 hari antara Iran dan entitas Zionis Israel, pesan-pesan ancaman mulai berdatangan dari para pejabat tinggi Iran, yang memperingatkan Israel agar tidak terlibat dalam petualangan baru apa pun.
Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan bahwa Iran akan menanggapi tegas setiap petualangan baru yang mungkin dilakukan entitas Zionis terhadap negaranya.
Dalam panggilan telepon dengan mitranya dari Venezuela, Nicolas Maduro, Rabu (30/7), Pezeshkian mengatakan bahwa Iran berkomitmen pada jalur diplomasi, tapi pengkhianatan AS terhadap jalur diplomatik telah membuka jalan bagi agresi entitas Zionis.
Pezeshkian menambahkan bahwa Iran menanggapi agresi tersebut dengan tegas dan akan menghadapi setiap petualangan entitas kriminal ini dengan respons yang tegas pula.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, dalam pidatonya pada pertemuan para ketua parlemen dunia di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, menekankan perlunya menghukum entitas Israel atas agresinya yang didukung AS terhadap Iran.
Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan menoleransi pelanggaran kedaulatannya, dan bahwa Iran merespondengan tegas untuk membela tanah dan rakyatnya.
Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigjen Ali Mohammad Naeini, memperingatkan Israel agar tidak mengulang agresinya. Dia mengatakan bahwa jika Israel mencoba menyerang keamanan Iran lagi atau melakukan kesalahan maka rezim Zionis itu “akan terputus napasnya di wilayah pendudukan.”
Dia menambahkan bahwa geografi respon dan medan perang akan berubah, dan respon itu akan lebih menyakitkan dan keras. Dia mencatat bahwa Iran kendali penuntasan konflik akan ada ke tangan Iran.
Berbagai pernyataan itu mengemuka ketika Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran mengumumkan informasi baru mengenai kerugian Israel dalam perangnya dengan Iran, terutama kematian sedikitnya 800 tentara Israel, selain kehancuran pusat-pusat vital infrastruktur militer dan intelijen Israel, termasuk Institut Weizmann dan gedung Mossad, serta kematian sedikitnya 13 perwiranya, dan kehancuran pangkalan distribusi bahan bakar utama di Haifa dan pusat utama teknologi militer Israel. (mm/alalam)