Sanaa, LiputanIslam.com – Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah Brigjen Yahya Saree, mengumumkan adanya opsi eskalasi negaranya terhadap Israel terkait perang genosida dan kelaparan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam (27/7), Saree mengatakan pihaknya telah memutuskan untuk meningkatkan operasi dukungan militer mereka kepada Gaza dan memulai pelaksanaan fase keempat blokade laut Israel.
Saree menjelaskan bahwa fase ini mencakup penargetan semua kapal milik perusahaan mana pun yang bertransaksi dengan pelabuhan Israel, terlepas dari kewarganegaraan perusahaan tersebut, dan di tempat mana pun yang berada dalam jangkauan pasukan Yaman.
Pasukan Yaman memperingatkan semua perusahaan agar menghentikan transaksi mereka dengan pelabuhan-pelabuhan Israel sejak pernyataan ini dikeluarkan
“Kapal-kapal mereka, ke mana pun tujuannya, akan menjadi sasaran di mana pun mereka dapat dijangkau atau berada dalam jangkauan rudal dan drone kami,” tegas Saree.
Pasukan Yaman juga meminta semua negara bahwa jika mereka ingin menghindari eskalasi ini maka hendaklah menekan Israel agar menghentikan agresi dan blokadenya terhadap Jalur Gaza.
Saree memastikan bahwa tindakan yang akan diambil oleh Angkatan Bersenjata Yaman tersebut mencerminkan komitmen moral dan kemanusiaan mereka di depan penderitaan rakyat Palestina, dan bahwa semua operasi militer akan segera dihentikan segera setelah agresi dan blokade terhadap Gaza dihentikan.
Dia menegaskan bahwa keputusan ini diambil mengingat perkembangan pesat di Palestina pendudukan, khususnya di Jalur Gaza, terlebih perang genosida yang sedang berlangsung dan gugurnya ribuan warga Palestina akibat agresi dan blokade yang berlangsung selama berbulan-bulan, di tengah kebungkaman yang memalukan dari pihak Arab, dunia Islam, dan masyarakat internasional.
Yahya Saree menegaskan bahwa dalam menghadapi kelanjutan pembantaian brutal dan mengerikan ini, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern, Yaman merasa mengemban tanggung jawab keagamaan, moral, dan kemanusiaan di depan kaum tertindas yang menjadi sasaran pembantaian dan penghancuran setiap hari, sepanjang waktu, melalui pemboman udara, darat, dan laut, dan kelaparan dan kehausan sebagai akibat dari blokade yang menyesakkan dan parah, sesuatu yang tidak dapat diterima oleh manusia mana pun. (mm/raialyoum)