Kairo, LiputanIslam.com – Universitas Al-Azhar Al-Sharif pada hari Rabu (23/7) mengumumkan alasan mengapa pihaknya menarik pernyataan dan seruannya mengenai situasi di Jalur Gaza.
Al-Azhar mengumumkan alasan itu setelah menarik pernyataan Imam Besarnya, Syeikh Ahmad al-Tayeb, beberapa menit setelah diunggah di akun media sosialnya pada Selasa malam (22/7).
Pernyataan tersebut berisi seruan penyelamatan warga Palestina di Jalur Gaza dari kelaparan mematikan, dan desakan kepada masyarakat dunia agar segera mengambil tindakan guna menghentikan genosida yang telah berlangsung selama hampir 22 bulan.
Pusat Media Al-Azhar menyebutkan pihaknya telah menyimak berbagai komentar yang muncul di media sosial terkait pernyataan mengenai situasi di Gaza tersebut.
Al-Azhar menjelaskan pihaknya “berinisiatif menarik pernyataannya dengan keberanian dan tanggung jawab di hadapan Allah ketika menyadari bahwa pernyataan tersebut dapat memengaruhi negosiasi yang sedang berlangsung mengenai gencatan senjata kemanusiaan di Gaza demi menyelamatkan orang-orang tak berdosa, dan untuk mencegah pernyataan ini digunakan sebagai dalih untuk mundur dari negosiasi atau tawar menawar di dalamnya.”
Al-Azhar menambahkan bahwa keputusan untuk menarik pernyataan tersebut “didasarkan pada tanggung jawab Al-Azhar di hadapan Allah SWT terkait isu-isu umat Arab dan Islam kita, terutama adalah perjuangan Palestina dan dukungan bagi penduduk Gaza yang tertindas.”
Al-Azhar menekankan bahwa pihaknya “mengutamakan kepentingan penghentian pertumpahan darah yang berlangsung setiap hari di Gaza, dan berharap negosiasi akan mengarah pada penghentian segera pertumpahan darah dan penyediaan kebutuhan hidup paling mendasar, yang telah dirampas dari rakyat tertindas Palestina.”
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Selasa dan kemudian telah ditarik, Imam Besar Al-Azhar menyatakan, “Kami menyampaikan seruan duka dan permohonan duka cita kami untuk menyerukan kepada hati nurani yang hidup dari orang-orang merdeka, berakal sehat serta para bijakawan di dunia untuk menyelamatkan penduduk Gaza dari kelaparan yang ditimbulkan oleh rezim pendudukan (Isael) dengan kekuatan dan kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dalam sebuah pemandangan yang tiada bandingannya dalam sejarah.”
Syeikh Ahmad al-Tayeb menegaskan, “Rezim pendudukan sengaja melaparkan penduduk Gaza -yang sedang mencari sepotong roti atau seteguk air- dan menembaki tempat penampungan pengungsian dan pusat distribusi bantuan.”
Dia juga menegaskan, “Orang yang mendukung entitas Israel dengan senjata atau mendorongnya dengan keputusan atau pernyataan munafik maka dia adalah mitra dalam genosida ini.”
Syeikh al-Tayeb menambahkan, “Kepada Allah kami berlepas diri dari kebungkaman global yang mencurigakan ini dan dari ketidak becusan khalayak internasional dalam mendukung rakyat yang tak berdaya ini. Kami juga menolak seruan apa pun untuk menggusur rakyat Gaza, dan kami lemparkan tanggungjawab kepada siapa pun yang menerima atau berpartisipasi dalam kejahatan ini.” (mm/raialyoum)