TelAviv, LiputanIslam.com – Menteri Pertahanan Israel Israel Katz berbicara tentang kemungkinan Tel Aviv melancarkan perang baru melawan Iran, dan menekankan perlunya mencegah dimulainya kembali proyek nuklir dan rudal Iran.
Katz menyatakan demikian pada hari Selasa (22/7) dalam sebuah forum penilaian situasi, yang dihadiri oleh Kepala Staf Eyal Zamir dan para komandan militer senior, menurut surat kabar Israel Maariv.
“Ada kemungkinan perangterhadap Iran akan kembali terjadi,” ujarnya, seperti dikutip surat kabar berbahasa Ibrani tersebut.
Pada 13 Juni, dengan dukungan AS, Israel memulai agresi 12 harinya terhadap Iran, dan Iran pun melancarkan serangan balik dengan menargetkan Israel menggunakan rudal balistik dan drone, sebelum AS mengumumkan gencatan senjata pada 24 Juni.
Agresi Israel terhadap Iran tersebut menandai transisi dari “perang bayangan” yang telah berlangsung puluhan tahun berupa aksi teror dan pembunuhan, menjadi perang hibrida terbuka yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara mereka.
Katz menekankan perlunya mempertahankan apa yang disebutnya “pencapaian dan superioritas udara yang dicapai dalam perang melawan Iran.”
Dia menambahkan, “Sangat penting, setelah Operasi Rising Lion (nama perang Israel terhadap Iran saat itu), untuk merumuskan rencana guna memastikan Iran tidak kembali ke proyek nuklir dan misilnya.”
Israel dan sekutunya, AS, menuduh Iran berusaha memproduksi senjata nuklir, sementara Teheran mengatakan programnya dirancang untuk tujuan damai, termasuk pembangkit listrik.
Israel adalah satu-satunya negara di kawasan Timteng yang memiliki persenjataan nuklir, dan menolak pengawasan internasional. Selama beberapa dekade, Israel terus menduduki wilayah Palestina dan wilayah di Suriah dan Lebanon.
Katz juga mengatakan, “Ada dua front terbuka: Jalur Gaza dan Yaman, dan Tel Aviv harus menyelesaikannya sepenuhnya, sebagai bagian dari kebijakan ofensif yang tegas, seperti yang terjadi di Iran, Lebanon, dan Suriah.”
Dia mengklaim, “Kita sudah sedekat mungkin untuk mencapai tujuan perang. Kehadiran Israel di pos-pos pengamatan dan zona keamanan di berbagai sektor, termasuk Suriah dan Lebanon, sangat penting bagi keamanan nasional Israel, dan militer harus bersiap dengan baik.” (mm/raialyoum)