Teheran, LiputanIslam.com – Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa informasi intelijen menunjukkan bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan perang lagi terhadap Iran.
Situs berita Press TV Iran pada hari Kamis (18/7) mengutip pernyataan seorang pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya bahwa Iran mengantongi informasi intelijen yang menunjukkan bahwa AS menggunakan inisiatif diplomatik sebagai kedok untuk menutupi persiapan militer, sehingga Teheran harus bersiap berkonfrontasi daripada terlibat dalam perundingan.
Dia menekankan bahwa setiap perundingan harus konsisten dengan realitas keamanan di kawasan sekitar.
“Untuk saat ini, kami pikir tujuan perundingan adalah untuk melucuti senjata Iran guna menutupi kelemahan Israel dalam perang berikutnya,” kata pejabat tersebut.
Dia menambahkan, “Intelijen kami menunjukkan Washington mengupayakan perundingan untuk mempersiapkan perang, bukan perdamaian. Jika demikian, kami tidak melihat alasan untuk membuang-buang waktu dan lebih memilih untuk fokus mempersiapkan konflik.”
Dia memperingatkan bahwa setiap putaran negosiasi baru harus mencakup “jaminan serius dan praktis” untuk memastikan proses tersebut bukan kedok tipu daya keamanan.
Pejabat itu menguraikan syarat-syarat utama perundingan, termasuk perhatian serius terhadap program nuklir Israel dan senjata pemusnah massalnya.
“Tidak seorang pun di kawasan ini akan menerima perlucutan senjata di kawasan ini sementara rezim yang haus darah seperti itu semakin bersenjata setiap hari,” tegasnya.
Menurutnya, hukuman yang setimpal bagi Israel dan kompensasi kepada Iran merupakan syarat lain untuk negosiasi, dan jika tidak maka negosiasi akan kembali menjadi awal perang.
“Ini adalah masalah bagi Amerika, dan kami tidak tahu bagaimana mereka akan menyelesaikannya,” ucap pejabat itu.
Teheran dan Washington terlibat dalam negosiasi yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan luar negeri Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff. Kedua pihak telah melakukan lima putaran perundingan tidak langsung yang dimediasi oleh Oman ketika Israel melancarkan serangkaian agresi yang praktis mengacaukan proses tersebut.
“Kita harus menerima jaminan bahwa Tuan Witkoff adalah mediator untuk solusi, bukan pemicu perang. Memberikan jaminan seperti itu sangat sulit, tapi kami siap memberikan satu kesempatan lagi dan mendengarkan apa yang dikatakan AS tentang masalah ini serta melihat tindakan praktisnya dalam hal ini,” ujar pejabat anonim tersebut.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa program nuklir Iran menderita pukulan telak dalam serangan AS pada bulan lalu. Karena itu, dia mengaku tidak terburu-buru untuk melanjutkan negosiasi dengan Teheran. (mm/presstv/raialyoum)