Sweida, LiputanIslam.com – Provinsi Sweida, Suriah, masih ketegangan di lapangan di mana konfrontasi sengit meletus antara faksi militer Druze di satu pihak dan faksi suku di desa-desa dan kota-kota di pedesaan Sweida barat di pihak lain.
Dalam eskalasi lebih lanjut, suku-suku Daraa mendeklarasikan “mobilisasi umum” untuk mendukung suku mereka di Sweida menghadapi faksi-faksi Druze, sehingga konfrontasi berpotensi meluas di Suriah selatan.
Ketegangan juga berdampak pada mahasiswa Suriah. Sumber-sumber di Universitas Aleppo melaporkan bahwa sejumlah mahasiswa Druze diserang di asrama mereka sebelum kemudian dipindahkan ke lingkungan Ashrafieh dan Sheikh Maqsoud, dua wilayah yang berada di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Kurdi, demi keselamatan mereka di tengah ketegangan sektarian.
Sementara itu, kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan pada Kamis malam (17/7) bahwa serangan udara Israel menyasar wilayah sekitar kota Sweida.
Minggu lalu, bentrokan berdarah meletus antara kelompok Bedouin dan Druze di Sweida, yang kemudian disusul intervensi militer dan pasukan keamanan untuk memulihkan stabilitas di wilayah tersebut.
Di sisi lain, dengan dalih melindungi warga Druze, Israel memanfaatkan situasi ini dan meningkatkan agresinya terhadap Suriah dengan serangan udara intensif terhadap empat provinsi pada hari Rabu, termasuk pengeboman markas Staf Umum militer dan sekitar istana presiden di Damaskus.
Para menteri luar negeri dari 12 negara Arab menegaskan dukungan mereka kepada keamanan, persatuan, stabilitas, dan kedaulatan Suriah, serta penolakan mereka terhadap segala bentuk campur tangan asing dalam urusan negara tersebut.
Hal itu disampaikan dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pembicaraan intensif selama dua hari terakhir, yang dihadiri oleh menteri luar negeri Yordania, UEA, Bahrain, Turki, Arab Saudi, Irak, Oman, Qatar, Kuwait, Lebanon, dan Mesir.
Mereka menyerukan dukungan bagi upaya pemerintah Suriah untuk membangun kembali negara ini. Mereka juga mengecam serangan berulang Israel terhadap Suriah, dan menganggapnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman bagi persatuan dan stabilitas Suriah.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Israel berupaya untuk menjerumuskan kawasan ke dalam pertumpahan darah, kekacauan, dan kerusuhan.
“Israel juga menyerang Lebanon, Yaman, dan Iran, membantai orang-orang tak berdosa dan mengebom wilayah sipil di sana. Seolah semua ini belum cukup, Israel menggunakan Druze sebagai dalih untuk memperluas amukannya ke tetangga kita, Suriah, selama dua hari terakhir,” kata Erdogan.
Dia menambahkan, “Saya ingin menekankan sekali lagi, dengan lantang dan jelas: Israel adalah negara teroris. Israel tidak mengakui hukum atau aturan, tidak memiliki prinsip, dan arogan.” (mm/almayadeen/raialyoum)