Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengeluarkan peringatan keras setelah serangan udara Israel menggugurkan belasan orang di Lebanon timur dalam serangan paling mematikan sejak gencatan senjata November lalu.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Selasa (15/7), Hizbullah mengatakan serangan itu menandai “eskalasi besar dalam agresi yang berlangsung terhadap Lebanon dan rakyatnya.”
Gerakan perlawanan tersebut mendesak pemerintah Lebanon untuk memecah kebisuan dan “mengambil tindakan serius, segera, dan tegas” untuk menegakkan kesepakatan gencatan senjata dengan Israel.
Hizbullah juga menuntut AS, pendukung utama Israel, agar memenuhi tanggung jawabnya sebagai penjamin gencatan senjata.
“AS, sebagai penjamin perjanjian gencatan senjata, telah mengabaikan kewajibannya dan malah memajukan inisiatif yang hanya melayani kepentingan dan keamanan musuh Israel,” ungkapnya.
Hizbullah menyebutkan bahwa AS berupaya menipu rakyat Lebanon dengan berlagak sebagai pendukung stabilitas, keamanan, dan persatuan Lebanon, padahal AS melepaskan Israel untuk mendatangkan kehancuran dan kematian di seluruh Lebanon.
Hizbullah memperingatkan bahwa ketidakhadiran sikap resmi dan efektif yang berkelanjutan hanya akan mengarah pada eskalasi dan agresi lebih lanjut.
“Tanpa sikap resmi, kuat, dan efektif, serta kelalaian dan ketidakpedulian yang berkelanjutan secara internasional, hanya akan mengarah pada lebih banyak pelanggaran dan agresi,” kata Hizbullah.
Hizbullah menegaskan kembali watak kriminal Israel, yang telah mengabaikan hukum dan konvensi internasional dan tidak ragu-ragu melakukan pembantaian terhadap warga sipil tak berdosa.
Hizbullah menyebut Israel berusaha menekan “kehendak nasional” Lebanon, tetapi rakyat Lebanon akan “berpegang teguh pada perlawanan sebagai pilihan untuk menghadapi musuh”.
Hizbullah menyatakan demikian beberapa jam setelah pesawat tempur Israel pada hari Selasa mengintensifkan serangan mereka terhadap Lebanon dan melancarkan gelombang serangan udara mematikan di Lembah Bekaa utara.
Serangan udara tersebut menggugurkan belasan orang di wilayah Bekaa, termasuk tujuh warga Suriah di dekat kota al-Hermel.
Serangan itu menyasar infrastruktur sipil, dan menandai salah satu perkembangan paling berbahaya dalam beberapa hari terakhir. Salah satu serangan terjadi di dekat sebuah sekolah saat para siswa sedang mengikuti ujian.
Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 27 November 2024. Sejak itu, Israel melanggar gencatan senjata lebih dari 3.700 kali dengan melancarkan serangan terhadap negara tersebut.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Israel diwajibkan untuk menarik sepenuhnya pasukannya dari Lebanon. Namun, Israel tetap mempertahankan kehadiran militernya di lima wilayah, yang jelas-jelas melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan ketentuan perjanjian November lalu.
Serangan udara Israel dalam beberapa hari terakhir juga telah meluas ke pinggiran Beirut dan kota-kota di utara, yang menyebabkan korban sipil.
Otoritas Lebanon telah berulang kali memperingatkan bahwa pelanggaran rezim terhadap perjanjian gencatan senjata mengancam stabilitas di negara tersebut. (mm/presstv)