Damaskus, LiputanIslam.com – 24 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam bentrokan antara pejuang Druze yang kontra pemerintah dan Badui yang pro pemerintah di kota Sweida, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR).
Sebuah sumber pemerintah menyatakan bahwa pasukan Kementerian Dalam Negeri telah tiba di daerah tersebut untuk membubarkan bentrokan.
Bentrokan ini merupakan kekerasan pertama yang terjadi di wilayah tersebut sejak bentrokan antara Druze dan pasukan keamanan pada bulan April dan Mei, yang juga menewaskan puluhan orang.
SOHR yang berbasis di London merilis jumlah korban tewas baru sebanyak 24 orang, termasuk dua anak-anak. Korban tewas adalah 20 warga Druze dan empat warga Badui, akibat bentrokan bersenjata dan penembakan di lingkungan al-Maqous di sebelah timur Sweida dan wilayah lain di Provinsi Sweida.
Platform Sweida 24 semula melaporkan jumlah “korban tewas 10 orang namun terus meningkat, korban luka 50 orang dari berbagai pihak.”
Platform tersebut juga melaporkan bahwa bentrokan itu menyebabkan penutupan jalan raya internasional Damaskus- Sweida.
Sebuah sumber resmi mengatakan kepada AFP bahwa pasukan Kementerian Dalam Negeri telah tiba untuk “melerai pertempuran.”
Gubernur Sweida Mustafa al-Bakour menyerukan “perlunya pengendalian diri dan respons terhadap akal sehat dan dialog.”
Dia menambahkan, “Kami menghargai upaya yang dilakukan oleh otoritas lokal dan suku untuk meredakan ketegangan, dan kami menegaskan bahwa negara tidak akan kendur dalam melindungi warga.”
Para pemimpin agama Druze menyerukan ketenangan dan mendesak otoritas Damaskus untuk campur tangan.
Kantor Berita Arab Suriah, SANA, melaporkan bahwa pasukan keamanan internal dikerahkan di sepanjang perbatasan administratif yang memisahkan Kegubernuran Daraa dan Sweida sebagai tanggapan atas perkembangan keamanan terkini.
Provinsi Sweida dihuni oleh komunitas Druze terbesar di Suriah dengan jumlah sekira 700.000 orang.
Bentrokan berdarah meletus di dua wilayah dekat Damaskus pada bulan April, dan dampaknya meluas hingga ke Sweida. Setidaknya 119 orang tewas, termasuk militan Druze dan pasukan keamanan.
Konfrontasi berdarah ini mendorong Israel untuk campur tangan dengan melancarkan serangan udara dan memperingatkan Damaskus agar tidak melukai anggota komunitas tersebut.
Menyusul bentrokan ini, perwakilan pemerintah Suriah dan para tokoh Druze menyepakati perjanjian gencatan senjata untuk meredam eskalasi, yang kembali menyoroti tantangan yang dihadapi otoritas transisi yang dipimpin oleh Presiden Ahmed al-Sharaa alias Abu Mohammed Al-Julani dalam upayanya untuk mengonsolidasikan kekuasaannya dan menetapkan kerangka kerja hubungan dengan berbagai komunitas setelah penggulingan rezim sebelumnya pada bulan Desember. (mm/raialyoum)