Teheran, LiputanIslam.com – Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam sebuah wawancara televisi pada hari Kamis (10/7) menyinggung berbagai aspek perang yang dipaksakan Rezim Zionis Israel terhadap Iran serta menceritakan peran Panglima Tertinggi Ayatullah Khamenei dan kekompakan 90 juta rakyat Iran dalam membela negara.
Dalam wawancara ini dia juga menyebutkan keberhasilan rudal Iran menguasai udara dan darat tanah pendudukan Palestina serta kesuksesan 90% rudal menghantam target pada paruh kedua perang.
“Pusat riset keamanan Rezim Zionis mengumumkan bahwa 3.520 orang Israel terluka, dan angka ini (dalam permodelan saintifik) menunjukkan korban tewas mencapai lebih dari 500 orang Zionis,” ungkapnya.
Dia juga memastikan bahwa dalam peristiwa perang tersebut berbagai rancangan operasional Iran selalu diupdate, dan perang ini menjadi suatu pengujian faktual untuk mengevaluasi secara rinci rudal-rudal Iran, dan bahwa dalam operasi ini selain basis-basis militer Israel hancur, sistem-sistem pertahanan udara Rezim Zionis juga mengalami disfungsi.
Mengenai peran Ayatullah Khamenei dia mengatakan, “Panglima Tertinggi, Sang Pemimpin Besar, adalah sosok paling istimewa yang dengan menempatkan pasukan bersenjata dalam skala prioritas tertinggi berhasil membebaskan mereka dari kondisi dilematis. Yakni, dengan secara langsung mengangkat sejumlah orang (sebagai pengganti para komandan yang gugur), semua orang ini tepat pada 3-4 jam pertama sudah ternobatkan.”
Ghalibaf menambahkan, “Jangan kira bahwa pengangkatan ini merupakan instruksi yang dibacakan hanya melalui radio, yang sekedar sebagai informasi bagi masyarakat. Panglima Tertinggi, persis seperti pada tahun 1980 di mana beliau berada di pusat komando pada era Pertahanan Suci di Ahwaz, kali inipun kami kembali melihatnya mengendalikan komando, memberi instruksi dan memberikan pengarahan kepada mereka secara tatap muka dan di lapangan.”
Ketua parlemen Iran juga mengatakan, “Meski kita terkena pukulan di sektor radar (selaku organ mata) dan sejumlah komandan senior pun selaku organ otak perencanaan pun gugur, ternyata di lapangan muncul para komandan baru yang berkompeten dari generasi, edukasi dan rekam jejak yang sama, dan saya pun mengenal mereka. Selanjutnya, dalam tempo 17-18 jam kemudian, yakni pada Jumat malam, sebanyak hampir 150 rudal dan 350 drone dilesatkan ke arah musuh. Inilah kekuatan militer dan pergerakan kita, yang berhasil kita lakukan.” (mm/irib)