Doha, LiputanIslam.com – Negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas Palestina dimulai pada Minggu malam (6/7) di Doha, ibu kota Qatar, terkait perjanjian gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza, menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Seorang sumber Palestina yang mengetahui hal ini mengatakan kepada AFP bahwa “negosiasi tersebut berkisar pada mekanisme implementasi” dari kesepakatan potensial dan “pertukaran tahanan.” Dia menjelaskan bahwa negosiasi tersebut dimulai pada pukul 18.30 GMT, di mana “pendirian dan tanggapan akan dipertukarkan melalui mediator.”
Sebelum berangkat ke Washington, Netanyahu kepada wartawan di luar pesawatnya di Bandara Ben Gurion mengatakan, “Saya yakin bahwa pembicaraan dengan Presiden Trump tentu dapat berkontribusi untuk memajukan tujuan yang kita semua inginkan ini.”
Pertemuan itu akan menjadi yang ketiga antara Netanyahu dan Trump dalam waktu kurang dari enam bulan terakhir, karena Trump mendesak pengadaan gencatan senjata di Jalur Gaza, yang terkoyak oleh perang selama 21 bulan.
Netanyahu menegaskan, “Saya telah mengirim tim negosiasi dengan instruksi yang jelas… untuk mencapai kesepakatan yang dibahas, sesuai dengan ketentuan yang telah kita sepakati.”
Pada hari Sabtu dia mengatakan, “Perubahan yang ingin diperkenalkan Hamas pada usulan awal tidak dapat diterima.”
Sumber-sumber Palestina mengatakan kepada AFP bahwa usulan baru tersebut “mencakup gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan Hamas atas separuh tawanan Israel yang tersisa sebagai imbalan atas pembebasan sejumlah tahanan dan tahanan Palestina oleh Israel.”
Perubahan yang dituntut Hamas, menurut sumber-sumber tersebut, terkait dengan ketentuan penarikan pasukan Israel dari Gaza, jaminan yang dimintanya untuk penghentian permusuhan setelah 60 hari, dan dimulainya kembali tanggung jawab distribusi bantuan kemanusiaan oleh PBB dan organisasi-organisasi internasional yang diakui.
Presiden Israel Isaac Herzog usai bertemu dengan Netanyahu pada hari Minggu mengatakan bahwa Netanyahu memiliki “misi penting” di Washington, yaitu “untuk mencapai kesepakatan pemulangan semua sandera (tawanan) kami.”
Dari 251 tawanan yang diculik dalam serangan Hamas tahun 2023, sebanyak 49 orang masih berada di Gaza, 27 orang dinyatakan tewas oleh Israel. Gencatan senjata pertama yang berlangsung selama seminggu pada bulan November 2023 dan gencatan senjata kedua yang berlangsung sekitar dua bulan pada awal tahun 2025, yang ditengahi oleh Qatar, AS, dan Mesir, telah memungkinkan pembebasan sejumlah tawanan yang ditahan di Jalur Gaza dengan imbalan pembebasan warga Palestina dari penjara Israel.
Tanpa kesepakatan yang dicapai untuk tahap berikutnya setelah gencatan senjata, Israel melanjutkan serangannya di Jalur Gaza pada pertengahan Maret dan mengintensifkan operasi militernya pada tanggal 17 Mei, sembari menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk menumpas Hamas, yang berkuasa di kawasan tersebut sejak tahun 2007. (mm/raialyoum)