Teheran, LiputanIslam.com – Militer Iran bersumpah bahwa jika Israel kembali mengagresi Iran maka akan ada “pembalasan melumpuhkan”, yang sedemikian sengit sehingga bahkan AS bisa jadi tidak dapat menyelamatkan Perdana Menteri Israel,Benjamin Netanyahu.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, dalam sebuah upacara di Teheran, Jumat (4/7), mengatakan negaranya telah merencanakan pembalasan sesuai dengan arahan Pemimpin Besar Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
“Namun, kesempatan untuk melaksanakannya tidak muncul,” tambah komandan itu, sembari menegaskan bahwa Iran pasti akan melakukan pembalasan demikian jika terjadi pelanggaran baru Israel.
“Jika mereka menyerang Iran lagi, mereka akan melihat apa yang mampu kami lakukan. Dalam hal itu, bahkan AS mungkin tidak dapat menyelamatkan Netanyahu,” tandasnya.
Senada dengan ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan Iran tidak akan lagi mematuhi garis merah jika Israel kembali mengagresi Iran.
“Jika agresi baru terjadi terhadap Iran, tanggapan Iran akan menghancurkan dan kami tidak akan memiliki garis merah,” tegas Brigjen Ali Mohammad Naeini dalam sebuah wawancara dengan saluran berita al-Mayadeen, Jumat.
Dia menyatakan Israel gagal mencapai tujuannya dalam 12 hari agresinya terhadap Iran.
“Respon cepat Iran membuyarkan perhitungan musuh. Dalam perang baru-baru ini, tujuan musuh adalah menghancurkan kemampuan Republik Islam,” katanya.
Dia menyebutkan bahwa Israel telah secara eksplisit mengumumkan tujuannya melancarkan perang terhadap Iran , yaitu memaksanya menyerah dan bahkan menghancurkannya.
Naeini menjelaskan bahwa Israel menggunakan tindakan militer terhadap Iran setelah gagal mencapai tujuannya melalui negosiasi.
“Musuh Iran tidak cukup memahami negara republik Islam ini,” katanya.
Dia juga menekankan bahwa Rezim Zionis membidik para komandan militer Iran dan bermaksud untuk mengganggu stabilitas negara ini, “tetapi kami memberikan respon cepat terhadapnya.”
Rezim Israel kini khawatir tentang respon telak Iran jika melancarkan perang baru terhadap Republik Islam, pungkas Naeini. (mm/presstv/raialyoum)