Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayyid Abdul Malik al-Houthi menilai ketangguhan militer Iran sebagai faktor utama yang telah memaksa rezim Israel menghentikan agresi terbarunya setelah 12 hari.
Dalam pidato televisi pada hari Kamis (3/7), Sayyid al-Houthi menekankan bahwa kekuatan Iran terletak pada keteguhan, kesiapan strategis, dan kemauannya menanggapi ancaman secara efektif tanpa memberi konsesi.
“Model Iran selama perang 12 hari mencerminkan hasil dari strategi yang berdasarkan pada petunjuk ilahi, yang difokuskan pada persiapan dan mobilisasi angkatan bersenjata. Meskipun ada perang psikologis yang hebat dan dukungan Barat untuk Israel, respon tegas Iran memaksa musuh Israel untuk menghentikan serangannya,” katanya.
Dia menekankan bahwa kekuatan Iran berasal dari kombinasi kesiapan militer, dukungan rakyat, dan kepemimpinan yang kuat, yang menciptakan pencegah yang membuat agresi Israel lebih lanjut menjadi terlalu mahal.
“Salah satu unsur kekuatan Iran adalah keteguhan pendiriannya. Iran tidak menyerah atau membuat konsesi apa pun; sebaliknya, mereka menanggapi agresi dengan tegas. Salah satu unsur utama kekuatan Iran terletak pada keputusannya untuk menanggapi secara efektif. Efisiensi ini merupakan hasil dari pasukan yang dipersiapkan dengan baik. Meskipun menerima dukungan dari Amerika dan Barat, Israel pada akhirnya terpaksa menghentikan agresinya,” terangya.
Menurutnya, jika agresi berlanjut, Iran siap menanggapi dengan “kekuatan dan ketegasan yang lebih besar dari sebelumnya.”
Sayyid al-Houthi juga mengatakan, “Ini menunjukkan perimbangan tepat yang melindungi Umat Muslim. Perimbangan tanggapan, dengan meningkatkan kekuatan militer dan dukungan rakyat yang luas bagi pasukan dan para pemimpinnya, menghasilkan pencegahan terhadap Zionis dan memaksanya menghentikan agresi.” (mm/presstv)