Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menyatakan penolakannya terhadap campur tangan Israel dalam perdebatan internal Lebanon mengenai senjata Hizbullah, dan menegaskan pihaknya “tidak akan menyerahkan senjatanya kepada musuh Israel.”
Syeikh Qassem menyatakan demikian beberapa jam setelah seorang pejabat anonim Lebanon mengatakan bahwa proposal yang diajukan oleh utusan AS Tom Barrack ke Beirut pada bulan Juni lalu berkisar pada tiga poin utama, termasuk “penarikan senjata dan pembatasan penggunaannya hanya untuk negara Lebanon.”
Syeikh Qassem dalam pidatonya pada peringatan Muharram di pinggiran selatan Beirut, Rabu (2/7)), mengatakan, “Kami memiliki masalah di Lebanon yang relevan dengan pembahasan masalah senjata atau hal lainnya. Ini adalah masalah internal yang kita tangani dan sepakati bersama. Israel tidak ada relevansinya untuk campur tangan dalam perjanjian kita, mengawasi perjanjian kita, atau memantau ketentuan perjanjian kita di Lebanon.”
Dia menambahkan, “Hizbullah memiliki perjanjian dengan Israel secara tidak langsung melalui negara Lebanon. Israel harus mematuhi perjanjian yang disepakati dengan negara Lebanon.”
Pada tanggal 8 Oktober 2023, Israel melancarkan serangan terhadap Lebanon, dan kemudian meningkat menjadi perang skala penuh pada tanggal 23 September 2024, hingga mengakibatkan lebih dari 4.000 korban jiwa dan sekitar 17.000 korban luka.
Perjanjian gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel mulai berlaku pada 27 November 2024.
Syeikh Qassem menegaskan, “Mereka ingin melakukan ancaman dan kekerasan terhadap kami. Mereka ingin mengendalikan kami melalui ancaman dan kekerasan. Mereka ingin memutuskan apa yang mereka inginkan. Ancaman dan kekerasan tidak ada gunanya.”
Dia menambahkan, “Kami adalah kelompok yang tidak mau dipermalukan, kami juga tidak mau menyerahkan tanah kami, atau menyerahkan senjata kami kepada musuh Israel, kami juga tidak mau siapa pun yang mengancam kami agar kami merendah.” (mm/raialyoum)