Washington, LiputanIslam.com – Presiden AS Donald Trump mengaku “benar-benar” akan mempertimbangkan untuk mengebom Iran lagi.
Menanggapi pertanyaan dari Nomia Iqbal dari BBC pada jumpa pers di Gedung Putih, Jumat (27/6), Trump mengaku “tanpa ragu” akan menyerang Iran jika intelijen menyimpulkan Iran dapat memperkaya uranium hingga level yang mengkhawatirkan.
AS terlibat langsung dalam konflik antara Israel dan Iran akhir pekan lalu, dengan menyerang situs-situs nuklir utama dengan bom “penghancur bunker” sebelum Trump segera mengupayakan gencatan senjata.
Dalam pidato televisi pada hari Kamis, Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei mengatakan bahwa serangan itu tidak berdampak signifikan, sementara Trump pada hari Jumat mengulangi klaimnya bahwa situs nuklir negara itu telah “dihancurkan”.
Mengunggah di platform media sosialnya Truth Social pada hari Jumat, Trump mengaku tahu “PERSIS” di mana Ayatullah Khamenei berlindung dan bahwa ia secara pribadi telah menghentikan pasukan bersenjata Israel dan AS untuk menyerangnya.
Ayatullah Khamenei menyatakan Israel gagal mengganggu program nuklir Iran, dan menilai Rezim Zionis nyaris tumbang akibat serangan Iran.
“Rezim Zionis dengan segala gembar-gembor dan klaimnya, sudah nyaris tumbang dan hancur terkena gempuran Republik Islam. Masuknya serangan sedemikian rupa dari Republik Islam (Iran) semula tak pernah terlintas dalam benak dan imajinasi mereka, dan itu terjadi,” ujarnya.
Dia juga mengecam Trump dengan mengatakan, “Presiden Amerika dalam salah satu pernyataannya berseru, ‘Iran harus menyerah! Harus menyerah. Jangan ada lagi pengayaan (uranium). Jangan ada lagi tema industri nuklir. Temanya ialah Iran harus menyerah.’ Pernyataan demikian terlampau besar bagi mulut Presiden Amerika. Mengenai Iran nan besar, dengan sejarah, budaya dan tekad nasionalnya yang membaja sedemikian rupa, tema ‘menyerah’ hanya akan menjadi bahan olok-olokan orang yang mengenal bangsa Iran.”
Menanggapi pernyataan ini, Trump mengulangi pernyataannya bahwa Iran “hancur lebur”.
Trump juga mengaku telah “mengusahakan kemungkinan pencabutan sanksi” terhadap Iran, tapi telah memutuskan untuk “segera” menghentikan semua upaya peringanan sanksi setelah Ayatullah Khamenei membuat pernyataannya yang berisi “kemarahan, kebencian, dan kemuakan”.
Iran selalu bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan sipil semata.
Konflik terbaru antara Israel dan Iran dimulai ketika Israel melancarkan serangan terhadap situs nuklir dan infrastruktur militer Iran, yang mengakibatkan sejumlah ilmuwan nuklir dan komandan militer tewas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa “jika tidak dihentikan, Iran dapat memproduksi senjata nuklir dalam waktu yang sangat singkat”.
Gedung Putih dilaporkan mempertimbangkan berbagai opsi untuk menarik Iran kembali ke meja perundingan, termasuk memfasilitasi pendanaan untuk program nuklir sipil non-pengayaan.
Namun Iran membantah akan melanjutkan perundingan nuklir dengan AS, setelah Trump mengatakan pada pertemuan puncak NATO di Den Haag pada hari Rabu bahwa perundingan akan dimulai lagi minggu depan. (mm/raialyoum/bbc/irib)