Damaskus, LiputanIslam.com – Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Front Perlawanan Islam Suriah pada Rabu malam (4/6) mengaku bertanggung jawab atas penembakan roket yang ditembakkan dari Suriah ke wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Pengakuan itu disampaikan oleh seseorang yang menggunamakan nama julukan Abu Al-Qassem dan mengaku sebagai juru bicara militer Front Perlawanan Islam Suriah.
“Revolusi di Suriah telah menyimpang dari jalurnya, dan sekarang menuntut normalisasi dengan Israel,” katanya.
Menanggapi pendudukan Israel, Abu al-Qassem mengatakan, “Anda menghadapi kekuatan Suriah yang tak terpadamkan kecuali dengan darah.”
Sirene serangan udara dibunyikan di Dataran Tinggi Golan Suriah, dan diikuti oleh ledakan, menyusul peluncuran dua roket Grad dari Suriah pada hari Selasa.
Kementerian Luar Negeri pemerintah transisi Suriah sebelumnya menyatakanpihaknya belum memverifikasi kebenaran laporan mengenai penembakan terhadap Israel.
“Serangan itu tidak dan tidak akan pernah menimbulkan ancaman bagi pihak mana pun di kawasan tersebut,” ungkapnya.
Kepala biro politik Front Perlawanan Islam di Suriah, Mahmoud Mawaldi, berbicara kepada saluran Al-Mayadeen pada Rabu malam setelah pengumuman tanggung jawab atas peluncuran rudal tersebut.
Dalam wawancara dengan Al-Mayadeen, Mawaldi menjelaskan sikap Front Perlawanan Islam Suriah terhadap rezim baru, dengan menekankan bahwa pihaknya “bertentangan dengan otoritas de facto di Damaskus.”
Mawaldi menambahkan bahwa pihaknya”telah mengirim pesan” kepada rezim pendudukan Israel, dengan menyatakan “kami hadir,” dan “berjanji akan menabur api di bawah kakinya jika mereka maju ke Suriah.”
Dia juga menjelaskan bahwa pihaknya “tidak berurusan dengan faksi bersenjata mana pun di dalam Suriah,” dan bahwa ada “sejumlah kelompok bersenjata yang telah membubarkan diri dan bergabung dengan Front Perlawanan Islam Suriah.”
Dia juga menekankan bahwa perlawanan Front Perlawanan Islam Suriah juga berjuang untuk pembangunan negara, bukan tidak semata untuk perlawanan terhadap rezim pendudukan, dan bahwa front ini “mewakili mayoritas yang diam di dalam wilayah Suriah, beserta semua komponennya.” (mm/almayadeen)