Washington, LiputanIslam.com – Arab Saudi, Qatar, dan UEA telah memberi tahu Presiden AS Donald Trump bahwa mereka menentang kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.
AS dan Iran telah mengadakan lima putaran perundingan nuklir sejak 12 April dan diperkirakan akan bertemu lagi untuk negosiasi yang bertujuan mencapai kesepakatan baru. Kedua negara berselisih pendapat tajam mengenai tingkat pengayaan uranium.
Trump mengatakan pada hari Rabu (28/5) mengaku secara pribadi telah memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak mengganggu perundingan tersebut.
Mengutip sumber anonim yang mengetahui ihwal perundingan itu, saluran berita Amerika Axios pada hari Kamis (29/5) melaporkan bahwa para pemimpin Saudi, Qatar, dan UEA sama-sama meminta Trump dalam kunjungannya ke Timteng pada tanggal 13-16 Mei lalu agar berusaha keras mencapai perjanjian nuklir baru dengan Teheran.
Pada tahun 2018, Trump keluar dari perjanjian penting antara Iran dan beberapa negara lain yang memberikannya keringanan sanksi sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir Iran.
Negara-negara Arab Teluk itu semula menentang kesepakatan nuklir, namun kini lebih memilih diplomasi daripada konflik, dengan alasan kekhawatiran bahwa serangan akan memancing pembalasan Iran, terutama karena ketiga negara itu menampung pangkalan militer AS, tulis Axios.
Menurut Axios, Trump diberitahu langsung oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden UEA Mohammed bin Zayed, dan Emir Qatar Tamim al-Thani bahwa negara mereka keberatan atas risiko menanggung beban eskalasi.
Para pemimpin Arab itu juga khawatir tentang tindakan sepihak Netanyahu atau memengaruhi presiden AS untuk meninggalkan perundingan demi tindakan militer.
Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi secara khusus menyatakan kekhawatiran atas serangan Israel terhadap Iran, dan menegaskan kembali dukungan mereka terhadap negosiasi diplomatik. (mm/presstv)