Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa pelayaran di Laut Merah masih ditutup dibagi Israel, dan bahwa sebagian besar alat transportasi pengiriman di Laut Mediterania yang membawa komoditas ke Israel adalah milik lima rezim Arab dan Islam.
Dalam pidato mingguan tentang perkembangan terbaru agresi di Jalur Gaza serta perkembangan regional dan internasional, Sayid Al-Houthi, Kamis (29/5), mengatakan, “Apa yang dilakukan beberapa rezim Arab dan Islam adalah upaya menghindari tindakan yang diambil oleh Yaman dalam mendukung rakyat Palestina.”
Dia lantas mengatakan, “Saya kembali menyampaikan imbauan kepada rezim-rezim Arab dan Islam, yaitu sekira lima rezim, yang bekerja sama dengan Israel di bidang ekonomi, kerja sama yang krusial, yakni dengan volume yang besar, melalui pergerakan kapal-kapal di Laut Mediterania yang membawa komoditas ke dan dari musuh, Israel. Kapal-kapal itu adalah milik lima rezim Arab dan Islam.”
Dia menambahkan, “Ini sungguh memprihatikan dan sangat menyedihkan, merupakan pengkhianatan terhadap Islam dan Muslimin, dan partisipasi dalam apa yang dilakukan Israel.”
Dia juga menegaskan, “Agresi Israel di Bandara Sanaa tidak akan menghentikan operasi Yaman dalam mendukung rakyat Palestina. Angkatan bersenjata Yaman berusaha untuk meningkatkan operasi mereka pada periode mendatang agar lebih efektif dan berdampak terhadap musuh, Israel.”
Beberapa hari yang lalu, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan dimulainya pekerjaan untuk memberlakukan blokade laut di pelabuhan Haifa di Palestina pendudukan sebagai tanggapan atas eskalasi agresi pendudukan Israel di Jalur Gaza dan blokade serta aksi pelaparan yang terus berlanjut terhadap penduduk Gaza.
Sayyid Al-Houthi mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman melakukan beberapa operasi militer pada minggu ini dengan melesatkan 14 rudal hipersonik dan balistik serta sebuah pesawat nirawak ke wilayah Palestina pendudukan.
Menurutnya, operasi militer Yaman minggu ini menyasar target di Jaffa, Haifa, Ashkelon, dan Umm al-Rashash di wilayah Palestina yang diduduki.
Dia menilai bahwa pendirian Yaman “terintegrasi secara politik, militer, dan kerakyatan, dan bukti terpentingnya adalah kegagalan Amerika untuk meningkatkan eskalasi terhadap Yaman.”
Ia juga menekankan, “Kondisi perang di Yaman tidak dapat menundukkan negara kami, baik secara resmi maupun populer, dan mencegahnya dari melaksanakan tugas-tugas sucinya.” (mm/alalam)