Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan bahwa “kubu perlawanan tidak akan tinggal diam dalam menghadapi ketidakadilan,” dan bahwa mereka percaya perang melawan Israel “belum berakhir”.
Dalam pidatonya pada momen peringatan Hari Perlawanan dan Pembebasan di Lebanon, Ahad (25/5), Syeikh Naim Qassem, mendesak pemerintah Lebanon agar menjalankan tugasnya dengan baik dalam menghadapi Israel.
“Pemerintah bertanggung jawab, dan jika gagal melaksanakan tugasnya, maka ada pilihan lain,” ungkapnya.
Dia lantas menegaskan, “Kubu perlawanan (Hizbullah) tidak tinggal diam dalam menghadapi ketidakadilan, juga tidak menyerah. Kubu ini sabar dan memberi waktu, tapi tindakan perlu dilakukan. Kami percaya bahwa perang belum berakhir sampai sekarang, dan kami semua menghormati mereka yang menawarkan diri. Eksploitasi kekuatan Israel hanya meningkatkan keteguhan dan tantangan kami.”
Sekjen Hizbullah juga memuji perjuangan bangsa Yaman, yang bahkan berhasil menekan mundur AS di depan serangan Yaman terhadap Israel .
“Yaman telah memaksa Amerika untuk mundur. Yaman berkorban demi Gaza, Palestina, martabat dan kemanusiaan Arab, sementara Amerika tidak mampu berbuat apa-apa. Jika Amerika yakin dapat mencapai persyaratan Israel melalui tekanan, saya katakan kepadanya bahwa persyaratan tersebut tidak akan tercapai, seberapa besar pun pengorbanannya.”
Surat kabar Politico baru-baru ini mengutip pernyataan lima pejabat aktif dan non-aktif AS bahwa hubungan Presiden AS Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam beberapa minggu terakhir terusik dan tegang akibat perbedaan pendapat mengenai cara penanganan berbagai krisis Timur Tengah. Serangan terhadap Museum Yahudi di Washington dan kematian dua karyawan kedutaan Israel kemungkinan besar tidak mengubah realitas ini.
Para pejabat AS dan Israel menyebut situasi saat ini sebagai “perpecahan”. Meski ini bisa jadi berlebihan, namun semakin banyak orang dalam pemerintahan Trump yang frustrasi terhadap Israel dan pendekatannya terhadap Washington dan Timur Tengah.
Dalam konteks ini, Sekjen Hizbullah mengatatakan, “Kami bernasihat kepada Presiden Amerika Donald Trump bahwa dia sedang mendapat kesempatan untuk bebas dari Israel. Jika dia memberi peluang bagi Israel untuk berkelanjutan di Gaza dan Lebanon maka ini akan menghilangkan kesempatan Amerika untuk berinvestasi di kawasan.”
Syeikh Naim Qassem mengingatkan bahwa AS bertanggungjawab karena telah memelihara agresi Israel di Gaza maupun Lebanon.
Dia lantas menegaskan, “Lebanon harus kuat, percaya diri, dan bebas, serta harus lantang di Dewan Keamanan. Dewan menteri harus lantang, dan masing-masing anggotanya harus peduli kepada apa yang harus dilakukan.” (mm/raialyoum)