Muscat, LiputanIslam.com – Para pejabat Iran dan AS akan mengadakan putaran perundingan lainnya di Roma pada hari Jumat (23/5), meskipun kesenjangan antara kedua negara mengenai pengayaan uranium semakin lebar. Demikian diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, Rabu (21/5).
Pengumuman itu mengemuka setelah beberapa hari Washington dan Teheran menyatakan sikap masing-masing, yang berseberangan mengenai pengayaan uranium Iran.
Para pejabat AS mengatakan pihaknya ingin Iran tidak hanya mengurangi program nuklirnya, melainkan juga menghentikan pengayaan uranium secara total, dan Iran pun menyebut keinginan itu tidak mungkin bisa dipenuhi.
Pengayaan uranium adalah proses mengubah atom uranium menjadi zat yang dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir.
Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, pada hari Selasa menegaskan negaranya tidak memerlukan izin AS untuk pengayaan uranium.
“Mereka (AS) mengatakan, ‘Kami tak memperkenankan Iran memperkaya uranium’. Pernyataan ini salah besar. Tak ada orang (Iran) yang menantikan izin mereka. Republik Islam Iran memiliki kebijakan dan caranya sendiri, dan menindaklanjuti kebijakannya,” tandasnya.
Pernyataan ini merupakan tanggapan atas pernyataan kepala negosiator AS, Steve Witkoff, yang menyebut pengayaan uranium sebagai “garis merah” dan bahwa Washington “bahkan tidak dapat mengizinkan 1 persen pun dari kemampuan pengayaan”.
Beberapa pejabat Iran dan AS telah menegaskan kembali pendirian masing-masing.
Washington mengatakan Iran dapat mengoperasikan reaktor nuklir untuk produksi energi dengan mengimpor uranium yang telah diperkaya, dengan alasan bahwa produksi uranium dalam negeri oleh Teheran berisiko berpotensi menjadi senjata nuklir.
Iran, yang menyangkal berupaya mendapatkan senjata nuklir, mengatakan pengayaan uranium untuk tujuan sipil adalah haknya sebagai negara berdaulat. (mm/aljazeera/alalam)
