Sanaa, LiputanIslam.com – Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan Haifa di bagian selatan Palestina pendudukan, sebagai tanggapan atas “perluasan agresi” terhadap Jalur Gaza dalam aksi genosida Israel terhadap orang Palestina.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree, Senin (19/5) menyatakan pihaknya “berkat pertolongan Allah, telah menetapkan pelaksanaan arahan pimpinan untuk mulai bekerja memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Haifa.”
Dia menambahkan, “Kami ingin memberitahukan kepada semua perusahaan pemilik kapal di atau menuju pelabuhan ini bahwa, pada saat pernyataan ini dikeluarkan, pelabuhan ini telah dimasukkan dalam daftar sasaran, dan mereka harus mempertimbangkan apa yang dinyatakan di dalamnya dan apa yang akan dinyatakan kemudian.”
Saree menjelaskan, “Keputusan ini diambil setelah kami berhasil memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Umm al-Rashrash (Eilat, Israel selatan) dan menghentikan operasinya.”
Saree memperingatkan, ” Dengan pertolongan Allah, kami tidak akan ragu mengambil langkah-langkah tambahan yang diperlukan demi membela rakyat tertindas Palestina dan perlawanan mereka.”
Dia menambahkan, “Semua tindakan dan keputusan Angkatan Bersenjata yang terkait dengan Israel, mulai dari operasi dukungan hingga larangan navigasi udara dan laut, akan berhenti dilaksanakan setelah agresi di Gaza berhenti dan blokade dicabut.”
Ansarullah menegaskan bahwa pihaknya meluncurkan rudal ke Israel “demi membela warga Palestina di Gaza,” dan akan terus melakukannya selama Tel Aviv melanjutkan perang genosidanya di Jalur Gaza.
Pada hari Minggu, tentara Israel mengumumkan peluncuran serangan darat di beberapa wilayah di Jalur Gaza, sebagai bagian dari apa yang disebutnya Operasi Gideon’s Wagons, yaitu serangan berskala besar dalam perang genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Pada awal bulan Mei, Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana operasi tersebut, dan pemerintah kemudian memulai persiapannya dengan memanggil puluhan ribu tentara cadangan.
Menurut Otoritas Penyiaran resmi Israel, operasi ini kemungkinan akan berlanjut selama berbulan-bulan.
Operasi itu mencakup “relokasi seluruh semua penduduk Gaza dari zona pertempuran, termasuk Gaza utara, ke wilayah di Jalur Gaza selatan,” dan tentara akan “tetap” berada di wilayah mana pun yang “didudukinya”.
Dengan dukungan AS, Israel telah melakukan kejahatan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang menyebabkan lebih dari 174.000 orang gugur.
Pada hari ke-79, Israel melanjutkan kebijakannya untuk secara sistematis membuat sekitar 2,4 juta warga Palestina di Gaza kelaparan dengan menutup titik-titik penyeberangan bagi bantuan yang menumpuk di perbatasan, sehingga menyebabkan Jalur Gaza dilanda kelaparan dan menjatuhkan banyak korban jiwa. (mm/raialyoum)