Gaza, LiputanIslam.com – Pertahanan Sipil di Jalur Gaza mengumumkan 120 orang Palestina gugur akibat serangkaian serangan udara Israel pada hari Kamis (15/5), sementara sebuah organisasi non-pemerintah yang didukung AS mengumumkan bahwa distribusi bantuan kemanusiaan akan dimulai pada akhir bulan Mei.
Seorang pejabat senior Hamas menegaskan bahwa mengizinkan bantuan masuk ke Gaza adalah persyaratan “minimum” untuk negosiasi dengan Israel, yang telah memberlakukan blokade ketat di Jalur Gaza sejak awal Maret.
Anggota Biro Politik Hamas, Bassem Naim, mengatakan, “Minimal untuk menciptakan lingkungan negosiasi yang konstruktif dan berguna adalah dengan mewajibkan pemerintah (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu membuka titik perlintasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, makanan, dan medis.”
Dia menekankan bahwa “akses terhadap makanan, air, dan obat-obatan merupakan hak asasi manusia yang mendasar dan bukan subyek yang dapat dinegosiasikan.”
Sejak 2 Maret, Israel telah mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, yang berpenduduk 2,4 juta jiwa. Pada tanggal 18 Maret, operasi militer dilanjutkan setelah gencatan senjata selama dua bulan.
Organisasi non-pemerintah, termasuk Doctors of the World, Doctors Without Borders, dan Oxfam, pada hari Rabu memperingatkan ihwal “kelaparan massal” di Gaza jika Israel terus memblokir bantuan memasuki Jalur Gaza.
Juru bicara Pertahanan Sipil di Gaza Mahmoud Basal mengatakan jumlah korban gugur akibat serangan Israel sejak dini hari Kamis tercatat 120 orang.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Kamis menyatakan bahwa rumah sakit terakhir di Gaza yang menyediakan perawatan medis untuk pasien jantung dan kanker telah menghentikan operasinya menyusul serangan Israel pada hari Selasa.
Pelapor Khusus PBB mengenai situasi di wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese, menyebut Israel “membunuh umat manusia yang tersisa.”
Rekaman TV AFP menunjukkan kehancuran yang disebabkan oleh serangan di Deir al-Balah di Gaza tengah, di mana bangunan-bangunan rata dengan tanah.
Amir Salha, 43 tahun, dari daerah Tel al-Zaatar di Jalur Gaza utara, menceritakan apa yang disebutnya serangan hebat Israel sepanjang malam.
Dia mengatakan, “Kami merasa tenda kami akan terbang dari tempatnya. Tembakan tank menghantam sepanjang waktu, dan daerah itu dipenuhi orang dan tenda.”
Hamas mendesak masyarakat internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas apa yang disebutnya sebagai “eskalasi biadab”.
Yayasan Kemanusiaan Gaza, sebuah organisasi non-pemerintah yang didukung AS pada hari Rabu mengumumkan bahwa mereka akan mulai mendistribusikan bantuan kemanusiaan di Gaza bulan ini, dan bahwa mereka telah meminta Israel untuk memastikan keamanan titik-titik distribusi bantuan di Jalur Gaza utara.
Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Kamis mengumumkan pihaknya tidak akan berpartisipasi dalam penyaluran bantuan melalui organisasi ini, karena mekanismenya tidak menganut prinsip netralitas dan independensi.
“Saya telah menegaskan bahwa kami terlibat dalam operasi bantuan yang konsisten dengan prinsip-prinsip inti kami. Kami telah berulang kali mengatakan bahwa rencana penyaluran bantuan ini tidak konsisten dengan prinsip-prinsip inti kami, termasuk prinsip imparsialitas, netralitas, dan independensi, dan kami tidak akan terlibat di dalamnya,” kata juru bicara Sekjen PBB, Farhan Haq. (mm/raialyoum)