Kermanshah, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan “tunduk pada pengganggu mana pun” sebagai tanggapan atas kecaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran dalam safarinya yang berlangsung selama empat hari di negara-negara Arab Teluk Persia.
“Dia (Trump) mengira dia bisa datang ke sini, meneriakkan slogan-slogan, dan menakut-nakuti kami. Bagi kami, mati syahid jauh lebih manis daripada mati di tempat tidur. Anda datang untuk menakut-nakuti kami? Kami tidak akan tunduk pada pengganggu mana pun,” katanya pada hari Rabu (14/5).
Sebelumnya di hari yang sama, dalampertemuan puncak Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Riyadh, Trump mengatakan bahwa meskipun dia ingin membuat kesepakatan dengan Teheran, Iran “harus berhenti mensponsori teror, menghentikan perang proksi berdarahnya, dan secara permanen dan dapat diverifikasi menghentikan upayanya memperoleh senjata nuklir.”
Washington dan Teheran telah mengadakan empat pertemuan yang dimediasi oleh Oman untuk membantu mencapai kesepakatan atas program nuklir Iran. Saat menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di ibu kota Qatar, Doha, pada hari Rabu, Trump mengulangi keinginannya yang dinyatakan secara terbuka untuk resolusi damai bagi program nuklir Iran, dan mengisyaratkan bahwa keputusan ada di tangan Teheran.
“Ini situasi yang berbahaya, dan kami ingin melakukan hal yang benar. Kami ingin melakukan sesuatu yang mungkin akan menyelamatkan jutaan nyawa. Karena hal-hal seperti itu dimulai, dan menjadi tidak terkendali,” kata Trump.
Pada hari Selasa, Trump mengaku ingin “membuat kesepakatan dengan Iran”, tapi “jika pimpinan Iran menolak perdamaian ini… kami tidak punya pilihan selain memberikan tekanan maksimum yang besar”.
Dia juga bersumbar tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Presiden Pezeshkian dalam pidatonya pada sebuah pertemuan di Kermanshah berkomentar, “Apa yang dikatakan Trump kemarin menunjukkan bahwa dia tidak mengenal rakyat Iran dan tidak menyadari semangat, kesatriaan, dan pengorbanan mereka. Dia menuduh Iran sebagai sumber kerusuhan dan bahaya.”
Dia menambahkan,”Pada saat lebih dari 60.000 warga sipil tak berdosa, termasuk wanita dan anak-anak, gugur syahid di Gaza, siapa yang telah menutup akses mereka terhadap makanan, air, dan obat-obatan? Mereka mengatakan mereka memiliki bom yang tak terbayangkan, lalu menuduh kami sebagai penghasut perang dan haus darah! Siapa yang mempersenjatai negara-negara di kawasan itu dan mendorong mereka ke arah perang? Siapa yang menebar fitnah?”
Presiden Iran juga mengatakan, “Barat membanggakan perdamaian, tetapi selama 47 tahun mereka telah melakukan segala cara yang mereka bisa untuk membuat rakyat dan rezim mereka bertekuk lutut. Mereka tidak berhasil, dan tidak akan pernah berhasil.”
Pezeshkian menutup pidatonya dengan menegaskan, “Mereka menghendaki perdamaian atau tidak, kami akan membangun dan mengembangkan negeri ini dengan kuat. Kami menyerukan perdamaian, bukan penyeru perang, tapi martabat dan kekuatan kami bukan untuk dijual. Kami pantang tunduk kepada kekuatan manapun, dan pantang menyerah.” (mm/alalam/aljazeera)