Hormuzgan, LiputanIslam.com – Gubernur Provinsi Hormozgan, yang berkantor pusat di kota Bandar Abbas, Mohammad Ashouri, mengatakan bahwa insiden Pelabuhan Shahid Rajaee disebabkan oleh pelanggaran deklarasi barang serta kelalaian dan kecerobohan dalam penyimpanannya.
Dalam wawancara televisi pada Senin malam (28/4) dia menyebutkan angka terbaru korban hilang.
“Ada sekitar 22 orang hilang, dan jenazah 22 lainnya tidak dapat diidentifikasi. Beberapa yang terluka diangkut dengan pesawat militer ke Rumah Sakit Shiraz. Kami tidak berbasa-basi dalam menyatakan fakta-fakta insiden ini,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan, “Beberapa temuan awal telah dicapai terkait kemungkinan kelalaian dalam hal ini, dan kami tengah menyelidiki secara serius semua aspek insiden ini. Kami tidak akan berkompromi; siapa pun yang lalai dalam hal ini akan dimintai pertanggungjawaban secara hukum.”
Dia menambahkan, “Dengan meninjau berbagai klip video insiden Pelabuhan Shahid Rajaee, kami melihat adanya proses pemindahan kargo saat insiden berlangsung, yang kemudian menimbulkan asap, dan lalu terjadi ledakan. Kerusakan mungkin akan berkurang jika peralatan lengkap tersedia di lokasi kecelakaan.”
Ashouri lantas menegaskan,”Sebagian dari insiden Pelabuhan Shahid Rajaee merupakan akibat dari pelanggaran deklarasi barang, dan sebagian lainnya terkait dengan kelalaian dan kecerobohan. Spekulasi adanya sabotase dalam insiden Pelabuhan Shahid Rajaee tidak berdasar.”
Menurutnya, lebih dari 100 mobil pemadam kebakaran, 500 petugas pemadam kebakaran, dan personel lapangan memberikan bantuan yang signifikan, bekerja sama untuk memadamkan dan mengendalikan api. Dia berterima kasih kepada semua tim dan lembaga bantuan yang berupaya mencapai lokasi kecelakaan dari provinsi tetangga. (mm/alalam)