Washington, LiputanIslam.com – Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) akhirnya mengakui bahwa jet tempurnya dari jenis F/A-18E Super Hornet, terjatuh dari kapal induk USS Harry S. Truman akibat serangan Angkatan Bersenjata Yaman.
Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (28/4) menyatakan bahwa jet tempur canggih senilai lebih dari Rp. 1,1 triliun itu terhempas ke Laut Merah ketika ditarik ke atas kapal yang sedang berbelok tajam untuk menghindari serangan pasukan Yaman di Laut Merah.
“Sedang ditarik di hanggar ketika kru yang bergerak kehilangan kendali atas pesawat tersebut,” ungkap Angkatan Laut AS.
Dia menambahkan bahwa seorang pelaut mengalami cedera ringan, tetapi kelompok penyerang dari kapal induk dan sayap udaranya tetap “sepenuhnya mampu menjalankan misi.”
Seorang pejabat anonim AS kepada The Washington Post juga mengonfirmasi hilangnya jet tempur tersebut.
Gerakan Ansarullah di Yaman pada hari Selasa (29/4) mengatakan bahwa kapal induk AS Truman kemungkinan besar terkena serangan “langsung” dan memperkirakan kapal tersebut akan meninggalkan Laut Merah “segera.”
Kantor Berita Yaman Saba melaporkan bahwa “kapal induk AS Truman dan pasukan pengiringnya akan segera meninggalkan Laut Merah, setelah gagal mencapai tujuan agresinya terhadap Yaman.”
Sumber anonim Yaman yang dikutip kantor berita Saba mengatakan, “Kami tidak mengesampingkan kemungkinan serangan langsung terhadap kapal induk AS dalam operasi terkini Angkatan Bersenjata Yaman, dan kami memperkirakan kapal tersebut akan meninggalkan wilayah operasi kapan saja.”
Dia menambahan,”Operasi belakangan ini terhadap USS Harry Truman memaksanya mundur sebagai akibat dari tekanan terus-menerus dari rudal dan pesawat nirawak Yaman. Serangan terhadap kapal induk itu berlangsung selama berjam-jam dengan taktik baru dan menggunakan rudal balistik dan jelajah serta pesawat nirawak.”
Dia juga menjelaskan, “Kami memiliki informasi tentang kedatangan unit pengawal kapal induk AS di Terusan Suez dalam perjalanan keluar dari Laut Merah setelah agresi terhadap Yaman gagal menghentikannya mendukung rakyat Palestina.”
Peristiwa itu terjadi setelah gerakan Ansarullah Yaman mengatakan serangan rudal AS di pusat penahanan provinsi Saada, Yaman, menewaskan hampir 70 migran Afrika dan melukai puluhan lainnya.
AS sendiri mengaku telah menyerang lebih dari 800 target di Yaman sejak pertengahan Maret dalam apa yang disebut Operasi Rough Rider, yang diinstruksikan oleh Presiden Donald Trump untuk memberikan “kekuatan mematikan yang luar biasa”. (mm/alalam/raialyoum)