Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menyebut serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut sebagai “serangan politik” tanpa “alasan”. Dia menyeru pemerintah Lebanon agar memberikan lebih banyak “tekanan” untuk menghentikan serangan tersebut.
Syekh Qassem menyatakan demikian pada hari Senin (28/4), sehari setelah serangan udara Israel menghantam daerah pinggiran selatan Beirut.
Serangan itu tercatat sebagai yang ketiga di daerah tersebut sejak gencatan senjata mulai berlaku. Lebanon kemudian mendesak kedua negara penjamin perjanjian tersebut, AS dan Prancis, “memaksa” Rezim Zionis agar menghentikan serangannya.
Israel mengklaim bahwa lokasi yang menjadi sasarannya pada hari Minggu adalah depot senjata Hizbullah yang berisi “rudal presisi.”
Syeikh Qassem mengatakan, “Kemarin, sebuah serangan terjadi di pinggiran selatan Beirut, dan serangan ini tidak memiliki alasan apa pun, meski sekedar ilusi sekalipun.”
Dia menambahkan, “Ini adalah serangan politik. Ini adalah serangan untuk mengubah aturan main. Ini adalah serangan untuk menetapkan aturan tertentu, yang menurut mereka dapat menekan Lebanon dan kubu perlawanannya serta mencapai tujuan yang mereka inginkan.”
Sekjen Hizbullah menilai serangan itu dilakukan justru “dengan izin Amerika, karena Israel mengatakan telah memberi tahu Amerika.”
Perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada tanggal 27 November, setelah baku tembak antara Israel dan Hizbullah berlangsung selama sekitar satu tahun dan meningkat menjadi konfrontasi terbuka pada bulan September 2024. Namun, Israel terus melancarkan serangan di Lebanon dan mempertahankan kehadiran militer di daerah perbatasan.
Syeikh Qassem mengingatkan bahwa “pemerintah bertanggung jawab untuk terus menekan kedua negara sponsor, AS dan Prancis, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan, dan pasukan darurat internasional” untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon.
Dia juga menegaskan, “Lebanon harus kuat dan akan tetap kuat melalui perlawanannya, rakyatnya, dan tentaranya. Kami tidak akan sudi menjadi lemah seperti yang kami alami lebih dari 40 tahun lalu.” (mm/raialyoum/alalam)