Beirut, LiputanIslam.com – Rezim Zionis Israel pada hari Ahad (27/4) menyerang kawasan Dahieh di pinggiran selatan Beirut setelah mengeluarkan peringatan evakuasi. Peristiwa ini tercatat sebagai serangan Israel yang ketiga kalinya di ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata berlaku pada akhir November 2024.
Kepulan asap tebal mengepul di atas area tersebut setelah serangan, namun belum ada kabar tentang korban jiwa yang mungkin jatuh.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk serangan udara tersebut dan meminta Prancis dan AS selau penjamin gencatan senjata 27 November antara Israel dan Hizbullah memaksa Israel menghentikan serangannya.
Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata itu dalam beberapa bulan dan minggu terakhir dengan serangan terhadap ibu kota dan di berbagai daerah di Lebanon selatan.
Aoun mengatakan Israel merusak stabilitas di Lebanon dan meningkatkan ketegangan, sehingga menimbulkan “bahaya nyata bagi keamanan” kawasan.
Tanpa menunjukkan bukti apapun, militer Israel mengklaim serangan itu menghancurkan “infrastruktur tempat rudal presisi” disimpan oleh Hizbullah. Tidak ada ledakan sekunder yang dilaporkan setelah serangan itu.
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan bahwa serangan udara dahsyat dengan tiga rudal menghantam daerah di kawasan Hadath-Jamous di pinggiran selatan Beirut, menyusul tiga serangan drone. Serangan udara itu menghancurkan sebuah hanggar dan merusak beberapa bangunan dan kendaraan.
Serangan dan pelanggaran beruntun ini memunculkan pertanyaan mengenai peran komite gencatan senjata dan sikap diamnya terkait pelanggaran ini. Sementara pemerintah Lebanon juga tetap diam dan tidak mengambil tindakan untuk menghentikan serangan tersebut.
Dalam perang yang berlangsung selama setahun, pesawat nirawak dan jet tempur Israel secara rutin membombardir pinggiran selatan Beirut, tempat Hizbullah memiliki pengaruh dan dukungan yang luas. Israel membunuh beberapa pemimpin tinggi Hizbullah di sana, termasuk Sekretaris Jenderal Sayid Hassan Nasrallah. (mm/aljazeera/alalam)