Gaza, LiputanIslam.com – Hamas mengecam pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, yang mendesak kelompok Palestina yang menguasai Gaza agar membebaskan tawanan Israel dan meletakkan senjata.
Pejabat senior Hamas Basem Naim mengatakan pada hari Kamis (24/4) bahwa pernyataan Abbas yang disampaikan sehari sebelumnya merupakan “penghinaan”.
“Abbas berulang kali dan secara mencurigakan menyalahkan rakyat kami atas kejahatan pendudukan dan agresi yang terus berlanjut,” katanya.
Sehari sebelumnya, Abbas mendesak Hamas agar membebaskan semua tawanan, sembari menyebut Hamas sebagai “anak anjing” dan mengatakan bahwa penyekapan tawanan itu memberi Israel “alasan” untuk menyerang Gaza.
“Hamas telah memberikan alasan kepada rezim okupasi kriminal untuk melakukan kejahatannya di Jalur Gaza, yang paling menonjol adalah menyandera,” kata Abbas dalam sebuah pertemuan di kantor pusat Otoritas Palestina di Ramallah, Tepi Barat.
“Saya yang membayar harganya, rakyat kita yang membayar harganya, bukan Israel. Saudaraku, serahkan saja mereka,” katanya.
“Setiap hari ada ratusan korban tewas. Hei anak anjing, serahkan apa yang kalian miliki dan keluarkan kami dari cobaan ini,” tambahnya kepada Hamas.
Telah terjadi perpecahan politik dan ideologis yang mendalam antara partai Fatah pimpinan Abbas dan Hamas selama hampir 20 tahun.
Abbas dan PA sering menuduh Hamas merusak persatuan Palestina, sementara Hamas mengecam Abbas karena bekerja sama dengan Israel dan merepresi perbedaan pendapat di Tepi Barat.
Gerakan Mujahidin Palestina, yang memisahkan diri dari Fatah pimpinan Abbas pada tahun 2000-an, juga merilis pernyataan kecaman terhadap Abbas di Telegram pada hari Rabu.
“Kami mengutuk keras pernyataan ofensif yang dibuat oleh Presiden Abbas dalam pertemuan Dewan Pusat mengenai perlawanan dan pejuang perlawanan rakyat kami, mengabaikan pengorbanan dan perjuangan rakyat kami dan mengabaikan penderitaan dan pengorbanan yang terus-menerus dari para tahanan,” bunyi pernyataan tersebut.
Gerakan itu menambahkan,“Kami mengutuk pemimpin Otoritas Palestina yang terus-menerus mengejar wacana ini, yang mengkriminalisasi perlawanan dan membebaskan rezim pendudukan dari kejahatan yang berkelanjutan terhadap rakyat kami selama beberapa dekade, terutama perang genosida terhadap Gaza, aneksasi dan Yahudisasi Tepi Barat dan Al-Quds, dan penderitaan berat yang dialami oleh para tahanan kami yang gagah berani.”
Gerakan tersebut juga meminta Abbas untuk mengeluarkan permintaan maaf atas pernyataannya.
Sejak operasi Israel di Gaza dilanjutkan pada 18 Maret, sedikitnya 1.928 orang gugur di Gaza, sehingga jumlah korban tewas sejak perang meletus menjadi sedikitnya 51.305, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza.
Pembicaraan tentang gencatan senjata baru sejauh ini tidak membuahkan hasil, dan delegasi Hamas berada di Kairo untuk melanjutkan perundingan dengan mediator Mesir dan Qatar. (mm/aljazeera)