Sanaa, LiputanIslam.com – Dalam salah satu pesan militer terkuat yang dikirim oleh Yaman kepada AS, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan tertembak jatuhan pesawat nirawak (drone) MQ 9-Reaper AS yang ke-18, sejak dimulainya perang Israel di Gaza.
Lebih dari sekedar pesawat mata-mata, drone ini juga merupakan salah satu pesawat serang paling canggih dan mematikan di gudang persenjataan AS. Dengan biaya lebih dari $30 juta (sekira Rp. 50 miliar), MQ 9-Reaper dilengkapi dengan rudal Hellfire berpemandu presisi dan mampu melakukan misi tempur dan pengintaian jarak jauh di ketinggian optimal. Meskipun teknologinya maju, unit demi unit drone ini rontok oleh tembakan presisi pasukan Yaman.
Sejak Sanaa menyatakan dukungannya secara eksplisit dan langsung terhadap Gaza, wilayah Yaman menjadi medan perang terbuka. Pasukan Yaman tidak hanya memblokir Laut Merah untuk kapal-kapal yang terkait dengan rezim pendudukan, melainkan juga memperluas operasi mereka hingga mencakup serangan terhadap kapal-kapal angkatan laut AS dan Inggris yang telah memasuki garis pertempuran demi membela pelayaran kapal-kapal Israel.
Angkatan Bersenjata Yaman telah melakukan lebih dari 80 operasi laut dan udara sejak November 2023, termasuk serangan menggunakan pesawat nirawak, rudal jelajah, dan rudal balistik, serta serangan langsung terhadap kapal perang dan kapal komersial.
Hebatnya, operasi Yaman tidak lagi terbatas pada perairan teritorial atau bahkan Laut Merah, melainkan meluas ke Laut Arab, Samudra Hindia, dan terkadang Mediterania melalui pesawat jarak jauh.
Pada setiap putaran pertempuran, MQ-9 mendapat pukulan telak. Perontokan 18 unit MQ-9 tidak hanya melemahkan superioritas udara AS, melainkan juga mencerminkan perubahan strategis dalam aturan konflik dan mengirimkan pesan yang gamblang bahwa angkasa Yaman tidak lagi bebas untuk intelijen AS.
Sanaa, yang telah mulai menerapkan aturan keterlibatannya sendiri, melanjutkan eskalasi militernya sebagai bagian dari apa yang disebutnya dukungan kepada Gaza, dan menegaskan bahwa operasinya akan terus berlanjut selama perang terhadap Palestina berlanjut.
Menariknya lagi, sistem pertahanan udara buatan lokal Yaman telah membuktikan kemampuannya melawan teknologi Barat dengan efektivitas yang signifikan.
Di Yaman, bukan hanya pesawat nirawak yang rontok, melainkan juga gengsi militer tentara paling kuat di dunia, dan langit masih meramalkan lebih banyak lagi peristiwa serupa. (mm/alalam)